“Saya mau berwudhu dan melihat rumah tetangga saya atapnya terbakar, langsung saya gedor-gedor namun tidak langsung merespon, kemudian saya gedor-gedor lagi rumah yang ada di depannya, sepupu si pemilik rumah,” kata Rosdiana kepada korankaltim.com.
Diwaktu bersamaan, dari penjelasan Randa, sepupu dari pemilik rumah, dirinya sama sekali tidak menyadari kalau atap rumah khususnya di bagian lantai dua yang dulu dijadikan sarang burung wallet terbakar. Kepada Korankaltim.com Randa menceritakan, dirinya mendengar sambaran petir sekira pukul 15.00 WITA.
“Jam lima sore tadi mati listrik rumah ini, jadi saya nyalakan lagi. Karena listrik lantai dua (eks sarang wallet) dan di rumah ini terpisah jadi ya tidak menduga. Saya beraktivitas seperti biasa dan tidak mencium aroma terbakar karena lantai dua dan satu memang ditutup rapat oleh sepupu saya yang pemilik rumah ini, karena bau bekas dipakai sarang wallet,” ungkapnya.
Dengan perasaan yang masih shock, Randa berusaha menyelamatkan diri sambil memberi kabar sepupunya yang sejak siang berangkat ke Desa Embalut ke tempat istrinya. “Adi baru berangkat jam dua an tadi ke Embalut, kan istrinya disana,” terangnya.
Api berhasil dipadamkan pukul 19.10 WITA. “Kemungkinan api sudah terjadi sejak sambaran petir yang menyebabkan listrik rumah ini mati tadi, namun karena lantai dua dan satu tertutup rapat jadi saya tidak mencium,” bebernya. Beruntung tak ada korban jiwa dari musibah ini.
Adi si pemilik rumah pun baru tiba di lokasi kejadian setelah api sudah berhasil dipadamkan oleh petugas. Kepada Korankaltim.com Adi menyampaikan ucapan terimakasih atas kesigapan petugas pemadam kebakaran dan seluruh instansi yang terlibat. “Iya ini rumah orangtua saya, karena mamak sudah meninggal jadi bapak tinggal di SP, rumah ini yang menempati saya, istri saya dan sepupu saya.
Karena istri saya bekerja di Embalut dan sekarang sedang hamil muda makanya istri saya disana biar dekat juga dengan mertua saya. Ini tadi saya kesana membawakan vitamin dan obat-obatan untuk istri saya, mendapat kabar musibah ini langsung bergegas saya kesini,” papar Adi.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur