"Kami pastikan dulu kadar oksigennya dan berapa pH nya. Biasanya pH nya turun, jadi kadar oksigennya juga turun, penyebabnya biasanya akibat terjadi pembusukan, misalnya tumbuhan air itu kalau kering dia tumbuh, dan saat tergenang banjir dia akan busuk dan tumbuhan yang ada di danau danau (wilayah hulu) itu turun inilah yang mengakibatkan menurunnya kualitas pH air itu," katanya kepada korankaltim.com Selasa (8/6/2021).
Selain karena terjadi pembusukan tanaman air yang berada di kawasan ulu, turunnya kualitas air ini juga disebabkan kondisi pasang surut air sungai mahakam. Seperti diketahui bersama pada beberapa pekan lalu sungai Mahakam sempat mengalami pasang tinggi. Setelah kondisi surut, maka pembusukan tanaman air ini larut di sungai yang sedang surut.
Hal ini juga terjadi pada sampah domestik rumah tangga yang ikut larut turun ke sungai pada saat kondisi sungai setelah pasang. "Pada saat surut, air yang tergenang di rumah tangga itu seperti parit pecerenan yang ada di rumah tangga itu pas pasang dan surutnya terbawa turun masuk ke sungai. Kan beberapa waktu lalu pasang dan saat ini surut, jadi ikut larut dan menambah penurunan kualitas air," jelas Muslik.
Mengetahui persoalan air bangar ini, maka langkah selanjutnya DKP Kukar segera memberikan arahan dan imbauan kepada seluruh pembudidaya perikanan sungai. Agar setidaknya bisa meminimalisir kerugian yang dialami akibat kejadian air bangar ini.
"Setelah ini kami memberikan arahan dan berikan informasi ke pembudidaya, supaya agar tetap waspada dengan mengarahkan agar mengurangi kepadatan, kemudian mengarahkan untuk menambahkan oksigen dengan penambahan kucuran air dan upaya lainnya," sebutnya.
Penulis: */Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur