“Iya Jumat malam warga nelayan setempat yang menemukan dengan kondisi mengambang dan sudah mati. Sejak saat itu pesut itu di freezer agar tidak busuk dan hari ini rencananya akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan, ini kami selalu koordinasi dengan kawan-kawan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia),” kata Syarief saat dikonfirmasi korankaltim.com, Minggu (30/5/2021).
Sementara itu salah satu Relawan Pesut Mahakam, Alimin menjelaskan Pesut Mahakam yang diketahui bernama Jay ini ditemukan oleh warga di sekitar pelabuhan Desa Sangkuliman karena hari sudah malam pada saat ditemukan, proses evakuasi dan pemeriksaan pesut ini ditunda keesokan harinya.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kematian yang aneh. Ada sedikit kerusakan di mulut. Gigi sudah tidak ada. Kayaknya pengaruh tua juga,” ungkap Alimin. Dia menerangkan, tidak ada tanda-tanda kematian tidak wajar di tubuh hewan endemik Kaltim ini. Hanya saja, ada beberapa bagian tubuh yang kulitnya terkelupas.
“Tapi itu kemungkinan karena busuk saja. Karena sudah lama tenggelam. Itu kayaknya sudah dua hari mati kalau dari baunya,” terangnya. Pada bagian mulut memang ada ditemukan kerusakan. Namun melihat kondisi Pesut Mahakam yang sudah tidak segar, belum bisa diputuskan penyebab kerusakan itu.
“Hari ini diotopsi oleh tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur,” sambungnya. Peneliti Pesut Mahakam dan Scientific Program Advisor di Yayasan RASI, Danielle Kreb menjelaskan, Pesut Mahakam yang ditemukan mati berusia lebih dari 20 tahun. Umur mamalia air tawar ini dihitung sejak foto sirip pertamanya.
“Pesut Mahakam ini merupakan jantan dewasa yang minimal usianya 20 tahun. Hal ini dilihat dari katalog foto sirip yang mulai 20 tahun lalu,” kata Danielle. Untuk ukuran, Kreb menyebut Pesut ini memiliki panjang 2,23 meter. Dia pun menyebut belum menemukan penyebab kematian. “Penyebab kematian belum dapat terlihat dari tanda bekas di tubuh yang tidak ada,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Resort Samarinda-Kutai Kartanegara Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong BKSDA Kaltim, Puji Mulyanto menyebut proses nekropsi akan dilakukan pada hari ini. Proses bedah itu akan dilaksanakan dengan melibatkan dokter hewan.
"Pesut Mahakam yang diberi nama Jay ini akan diketahui penyebab kematiannya usai nekropsi, kita lakukan nekropsi sekaligus melihat penampakan fisik. Apakah mati secara alami, atau ada bekas luka,” tutup Puji.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan