Saat ini Desa Long Beleh Modang, Long Beleh Haloq dan Desa Muai sudah surut airnya sehingga yang saat ini mengalami banjir ialah desa yang ada di bawahnya. "Sekarang di Kembang Janggut, Hambau dan Desa Genting Tanah yang kena. Tergantung cuaca, kalau tidak hujan cepat turun, tetapi kalau hujan terus ya ini yang bikin air bertahan," ungkapnya.
Menyikapi banjir ini, mayoritas masyarakat di Kecamatan Kembang Janggut sudah antisipasi jauh-jauh hari. Bahkan masyarakat meyakini akan terjadi banjir besar dengan mengetahui adanya fenomena alam yakni tumbuhnya tanaman jamur sebagai pertandanya. "Warga sudah antisipatif dan Desember dulu itu ada tanda-tanda alam, yakni tumbuhnya jamur kulat belung warga setempat menamakannya. Kalau ada jamur ini banjir pasti itu," ungkap Tejo.
Musibah banjir ini tak melulu menjadikan warga setempat dirundung kesedihan dan kesusahan, bahkan menurut Tego ada berkah tersendiri yang hadir dibalik banjir tahunan ini. Ada yang memanfaatkan sebagai ajang obyek wisata baru dan ada juga yang memanfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan karena melimpahnya hasil tangkapan ikan.
"Jadi obyek wisata baru warga berenangan di jalan-jalan, banyak yang dapat ikan jadi selain memang musibah juga mendatangkan berkah tersendiri. Namun memang kami yang jauh di ibu kota kabupaten ini pasti khawatir, sementara warga disana ya sudah terbiasa akan kondisi ini.
Memang ada beberapa desa yang turunnya lambat warga juga tetap berharap bantuan semisal kiriman bantuan sembako. Saat ini perahu karet BPBD sudah ada disana untuk tanggap darurat apabila ada warga yang sakit dan dengan sigap bisa diantar ke Puskesmas. Untuk korban jiwa hingga sejauh ini nihil dan semoga saja tidak ada dan banjir juga lekas turun," harap Tego.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur