Pada unjuk rasa ini turut dipantau langsung oleh pihak Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yakni dengan hadirnya Dewan Penasehat Kesultanan, H Adji Pangeran Haryo Kusumo Poeger dan Adji Pangeran Hario Adiningrat yang merupakan putra termuda dari Sultan AM Parikesit beserta Pangeran Rudi.
“Kami dari Kesultanan pada intinya mendukung masyarakat ini supaya hak-haknya dapat diperhatikan oleh perusahaan. Karena lahan itu sudah dijaga dari dulu sampai sekarang dan apabila perusahaan merasa sudah membayar, tunjukkan buktinya yang akurat, jangan sampai masyarakat ini diadu domba dengan organisasi yang lain,” kata Pangeran Poeger kepada awak media, Senin (17/5/2021).

Menurutnya, sangat wajar jika masyarakat menuntut haknya, karena merasa memiliki lahan. Dan diharapkan kepada aparat pemerintah baik Kepala Desa dan Camat dapat berperan aktif menyelesaikan masalah ini.
“Jangan sampai nanti ada organisasi yang lain yang mengatasnamakan Kesultanan dibenturkan dengan masyarakat, makanya pada saat ini kami membawa langsung ayahanda kami yakni beliau ini adalah kuasa ahli waris dari Sultan Parikesit karena beliau adalah anak yang terakhir dari Sultan AM Parikesit,” ungkapnya.
“Dan saya bersama pangeran Rudi adalah kuasa ahli waris A.P Praboe dan A.P Poeger. Di dalam lahan 105 (ribu hektar) yang sekarang juga digusur, namun sampai sekarang sesen pun kami belum menerima ganti ruginya,” timpal Poeger.
Meskipun saat ini pihak Kesultanan dirugikan dengan aktivitas perusahaan itu, Poeger mengaku untuk saat ini tidak mau berbuat seperti apa yang dilakukan pada saat ini oleh masyarakat (demonstrasi).
“Masyarakat yang sangat membutuhkan, kalau kami ini masih mengikuti jalur, namun kami siap dan lengkap data-data yang kami miliki. Namun pada saatnya nanti kami akan melakukan hal yang sama apa yang dilakukan masyarakat saat ini,” sebutnya. Ia menegaskan, perusahaan dalam beraktivitas tidak permisi dulu, langsung gusur. Tentunya ini adalah tindakan yang sangat tidak pas di kacamata pihak Kesultanan.
“Kami mengakui, Syamsu Arjaman yang dikenal pak Tikong itu adalah anak almarhum petinggi Jabir yang dulu merupakan perpanjang tangan Sultan Parikesit untuk mengelola kawasan dan mengawasi daerah sekitar Sungai Payang ini, jadi ya wajar saja mereka memiliki lahan di sini oleh karena itu kami mendukung apa yang dilakukan masyarakat hari ini namun dengan catatan tidak bertindak anarkis,” tegasnya.
Diketahui aksi ini dilakukan untuk meminta keadilan atas tuntuan hak lahan serta tanam tumbuh milik Syamsu Arjaman yang diserobot perusahaan, sejak tiga tahun hingga saat ini belum ada ganti rugi.
“Yang kami tuntut ini 3,4 hektare. Persoalan ini sudah tiga tahun lalu namun belum juga diselesaikan oleh perusahaan,” ujar Tikong sapaan akrabnya. Sayang, perwakilan perusahaan ketika dimintai keterangan oleh awak media memilih tidak bisa berkomentar terkait persoalan ini.[]
Penulis : */Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi
Tonton Videonya: