Ketika ditanya apakah hal ini terpengaruh bencana ledakan kilang minyak di Indramayu Balongan milik Pertamina, Politikus Golkar ini menyatakan tidak ada hubungannya sama sekali.
“Tidak ada, kan setahu saya kita Kaltim ini mampu memproduksi dan mengolah bahan bakar sendiri. Terlepas dari itu kita inginnya kelangkaan atau keterlambatan yang menyebabkan panjangnya antrean itu benar-benar diperuntukkan bagi rakyat kecil,” tegasnya.
Salah seorang karyawan SPBU di Tenggarong yang enggan disebutkan namanya mengaku, antrean ini sudah berlangsung satu bulan ini. Hal ini disebabkan memang ada pengurangan jatah kirim atau kuota yang diperuntukkan di SPBU.
“Ya memang ada jatah mas, kalau dulu (dua tahun lalu, red) kan sekali datang bisa 16 ton, sekarang itu paling delapan ton saja itu pun dalam setiap harinya ga jelas datangnya bisa sore, atau bahkan malam, sehingga baru dijual besok paginya,” ungkapnya.
Ia pun tidak mengetahui pasti kenapa jatah BBM subsidi selalu dibatasi. Yang pasti pihaknya hanya menjual dan melayani saja dengan menerapkan beberapa kebijakan langsung dari pengawas SPBU.
“Ga cuma solar ya, bensin (premium, red) juga dibatasi. Bagi kendaraan baik motor maupun mobil pasti kami ditugaskan untuk meminta no Hp pembeli dan kita catat nomor kendaraannya,” terangnya.
“Untuk solar kita berlakukan pembelian hanya berapa ratus ribu untuk masing-masing jenis kendaraan, kalau yang mobil kecil ya disesuaikan dengan kapasitas tangki normal, begitu pula untuk truk dan kendaraan besar lainnya,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan