“Mereka tidak ada sosialisasi, padahal kehadirannya mengganggu hasil tangkapan nelayan bagan karena lampu cahaya kapalnya sangat terang sekali. Melebih lampu bagan nelayan,” ungkapnya kepada korankaltim.com, Minggu (14/2/2021).
“Kami nelayan bagan pelaku aktivitas di laut tidak pernah dilakukan sosialisasi terkait aktifitas kapal di sana, tiba-tiba langsung muncul jangkar, padahal kalau aturannya ada sosialisasi dulu ke para nelayan yang melakukan aktivitas di sana,” timpal pria yang selalu mengenakan kopiah ini.
Ambo Angka menjelaskan, nelayan bagan tancap memanfaatkan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan, sejak tahun 70an nelayan bagan sudah berdiri di Muara Badak. “Nah sekarang banyak kapal yang di sana yang kalau malam hari jadi kaya kota lampunya, dan banyak ikan berkumpul di sana,” jelasnya.
Pada tahun 2018 lalu, nelayan Muara Badak sudah pernah dimediasi oleh pemerintah namun tidak ada hasil sampai sekarang. Permasalahan ini pun pernah di sampaikan ke Sekda dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kukar pada 27 Januari 2021 lalu. “Namun memang info sekda, masalah ini bukan wewenangnya pemerintah Kukar, melainkan Kaltim,” sebutnya.
Ia pun berharap, kapal tanker yang ada di perairan yang menjadi tempat nelayan bagan tancap Muara Badak mencari nafkah, bisa mengerti dan memperhatikan keberlangsungan kehidupan nelayan.
“Malam hari tidak usah menyalakan lampu kapal banyak, sehingga kami bisa operasikan bagan dengan maksimal. Sampai saat ini juga perhatian perusahaan kapal ke nelayan bagan Muara Badak juga tidak ada. Kami tidak ingin menghalangi aktivitas mereka, namun kami mohon pengertiannya, agar semua bisa jalan sama-sama tanpa ada yang dirugikan,” harapnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan