"Banyaknya tumbuhan gulma atau biasa disebut masyarakat napung yang tersangkut di bangunan intake (pompa sedot) pada beberapa instalasi PDAM Tirta Mahakam yang berimbas penurunan kapasitas pompa intake. Namun bisa segera diatasi dengan dilakukan pembersihan di sekitar bangunan intake," kata Sutrisno kepada korankaltim.com, Minggu (20/12/2020).
Ia mengungkapkan, tekstur gulma yang memiliki akar serabut dan memanjang kebawah cukup menyulitkan para petugas PDAM Tirta Mahakam yang membersihkan saluran pompa intake. Padahal desain di sekeliling kawasan pompa intake sudah dibangun sedemikian rupa untuk mengantisipasi kotoran atau sampah agar tidak menggangu pompa intake dalam menyedot air sebagai sumber air baku untuk diolah menjadi air bersih.
Ia juga memastikan, sedianya pompa intake yang tersebar di beberapa kecamatan tidak sudah dilengkapi sistem proteksi agar sampah tidak masuk. Namun karena gulma ini akarnya serabut dan panjang sampai kebawah juga mudah sekali tersedot. Untuk mensiasati nya jadi beberapa jam sekali kami matikan, untuk kemudian kami bersihkan.
"Begitu terus berulang kali sehingga kapasitas yang diproduksi mengalami penurunan," ungkapnya.
Beberapa daerah yang mengalami penurunan produksi ialah kawasan ulu mahakam, seperti di Kawasan Kota Bangun, Jantur, Danau Semayang dan kawasan ulu mahakam lainnya dimana jumlah intensitas gulma cukup menganggu aktivitas warga setempat.
Selain itu, kawasan Tanjung Batu juga, bahkan di Kota Bangun, sebut Sutrisno gulma pada pipa intake sampai mengakibatkan alat pengukur dan pengaman tegangan listri atau sekring terbakar.
"Meskipun menurun kapasitas produksi tapi untuk kualitasnya tetap kami jamin kebersihan dan kejernihannya," pungkas Sutrisno.[]
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi