Hal ini bahkan diminta oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, agar dapat segera diberlakukan.
Kepala Dinkes Kukar, Martina Yulianti menyebutkan, keunggulan tes rapid antigen ini adalah tingkat akurasinya yang tinggi dibandingkan dengan tes rapid tes antibodi.
Selain itu, harganya cukup murah dibandingkan dengan RT PCR yang ditetapkan oleh pemerintah maksimal seharga Rp275 ribu.
"Memang ini lebih bagus dari rapid tes antibodi, yang biasa itu," kata Martina kepada Korankaltim.com, Sabtu (19/12/2020).
Hanya saja, lanjut Martina, proses pengambilan sampelnya dari swab tenggorokan. Maka petugas harus menggunakan APD lengkap sebelum melakukan pemeriksaan ini.
Dengan begitu, pihaknya akan menunggu restu dari pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan tersebut.
"Karena pertimbangannya itu diambil dari swab tenggorokan, jadi resiko penularan terhadap pemeriksanya lebih tinggi," bebernya.
Dia juga menjelaskan, pemeriksaan ini dilaksanakan hanya bagi orang yang datang ke suatu daerah untuk kepentingan tertentu. Tidak dipergunakan dalam upaya tracing dan testing.
"Kalau tracing ya kita pakai Real Time PCR ya, tetap akurasi RT PCR lebih yang tinggi," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan