“Iya cuma ngetes aja dan pemprograman lampu hias yang jenis lampu sorot warna-warni itu. Kalau peresmian ya nanti kalau sudah rangkaiannya rampung semua kan yang untuk lampu DOT belum terpasang itu,” katanya kepada Korankaltim.com, Senin (7/12/2020). Ketika ditanya berapa jumlah tema yang dimiliki oleh lampu hias tematik jembatan Kartanegara, Slamet tidak bisa menyebutkan secara jumlah pasti, karena tema yang dimiliki sangat banyak.
“Ratusan itu ya temanya, ada tema yang berjalan, bergelombang ya macam-macam dan banyak sekali. Karena itu nanti untuk mengoperasikannya bisa dari laptop dan bisa dari HP. Ada kartu jitu-nya dan kita menghidupkan dan mematikan hanya dari HP dengan menggunakan password tentunya,” sebutnya.
Setiap mengoperasikan lampu hias tematik yang dipercaya semakin mempercantik panorama ketika malam hari untuk jembatan dengan panjang 710 meter ini, Slamet mengungkapkan diperlukan daya listrik sebesar 23 ribu watt.
“Kemarin saya keliru sempat bilang 40 ribu, karena ada menggunakan lampu DOT yang LED, kan seperti kita ketahui LED itu hemat daya, jadi untuk menyalakan lampu hias jembatan kita itu sebesar 23 ribu watts,” ungkapnya. “Kalau PLN mati ya ikut mati lah kan sama jaringannya dengan PJU (Penerangan Jalan Umum, red),” tambah Slamet.
Ia menegaskan, pada umumnya lampu hias tematik yang terpasang di jembatan-jembatan memiliki tipikal yang sama. Untuk menghindari kesan kesamaan dan sebagai menjadi daya tarik yang ikonik. Jembatan Kartanegara ini memiliki tulisan disisi ulu dan ilir jembatan yakni bertuliskan ‘KUTAI KARTANEGARA’ dengan rangkaian lampu hias berjenis lampu DOT.
“Ikonik kita tentu ada tulisannya, sebagai penegasan bahwa jembatan ini milik masyarakat Kutai Kartanegara dan bagi yang warga ber-swafoto pasti tidak perlu mempertanyakan lagi, itu jembatan mana,” tegasnya. “Sehingga tujuan kita untuk meningkatkan sector pariwisata pasti akan semakin meningkat dengan adanya ikonik dari Jembatan Kartanegara ini,” pungkas Slamet.[]
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi