“Fenomena alamiah itu sebenarnya, awan itu kan tipenya banyak bermacam-macam, salah satunya ya awan cumulonimbus (CB). Jadi awan CB ini tipenya seperti bunga kol menjulang tinggi,” katanya kepada korankaltim.com, Senin (30/11/2020). Reza menjelaskan, awan ini terbentuk melalui proses uap air atau kelembaban udara yang cukup basah dan adanya pemanasan di permukaan bumi sehingga terjadilah proses konvektif.
“Itu salah satu pembentukkannya kemudian bisa juga karena adanya pertemuan angin di atmosfer atas atau angin yang membelok sehingga mempercepat proses pembentukan awan,” jelasnya. Nama dari cumulonimbus sendiri merupakan bentuk besar dari kumpulan awan cumulus yang berbentuk bunga kol dengan ukuran kecil-kecil.
“Dan diidentifikasi bunga kolnya kecil-kecil serta banyak, kemudian berkembang karena proses dinamika atmosfer dan menjadi besar, ketika menjulang tinggi makanya dinamakan awan cumulonimbus dan biasanya juga warnanya mulai gelap kelabu,” bebernya. Ia memaparkan awan cumulonimbus ini juga bisa menyebabkan hujan deras secara tiba-tiba yang disertai angin kencang dan adanya petir.
“Terjadi proses dinamika atmosfer yang luar biasa di dalam awan itu baik tumpukan uap air, gesekan sehingga menyebabkan hujan deras angin kencang dan juga bisa petir dan kilat,” paparnya. Selama pantauan BMKG, fenomena awan cumulonimbus ini sudah pernah terjadi di kawasan langit Kaltim lainnya.
“Adapun ciri-ciri akan terbentuk awan CB ini adalah satu hari sebelumnya kita itu merasakan gerah di saat malam, kemudian besok paginya cuacanya panas sehingga terjadi penguapan yang begitu besar, dan biasanya di siang menjelang sore atau sore harinya baru terbentuk awan-awan cumulonimbus itu. Awan CB ini terjadi di mana-mana,” terangnya.
Reza menegaskan awan CB ini nyatanya sangat membahayakan bagi aktivitas penerbangan. Bahkan maskapai penerbangan pernah melakukan penundaan penerbangan jika awan cumulonimbus ini muncul.
“Khusus di penerbangan awan ini tentunya dihindari, karena kalau pesawat ini sampai masuk di awan ini, akan menyebabkan turbulensi yang sangat besar. Makanya pilot tidak berani menabrak awan ini, kadang dia muter dulu menghindari awan ini karena sangat berbahaya,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan