“Progres lampu tematik insya Allah sampai saat ini 50-60 persen. Saat ini pemasangan lampu sorot, kemarin sempat terkendala itu impor lampu DOT-nya yang dikirim dari Jepang,” katanya kepada korankaltim.com, Rabu (25/11/2020).
Slamet menjelaskan, fungsi lampu DOT yang memancarkan lampu dengan konsep titik-titik warna-warni ini nantinya untuk mempertegas kecantikan jembatan di saat malam hari. Selain dipasang di masing-masing kerangka jembatan, lampu DOT ini juga akan membentuk format tulisan ‘Kutai Kartanegara’ di sisi kiri dan kanan jembatan.
“Lampu DOT sudah datang dua atau tiga hari lalu, sekarang sudah ada di Surabaya. Kalau lampu sorotnya sudah ada di Tenggarong dan bahkan sudah dipasang. Untuk lampu DOT itu kemungkinan pekan depan ini akan dipasang,” jelasnya.
Slamet mengaku cukup terkejut dengan ukuran kerangka lampu untuk masing-masing huruf yang dirangkai membentuk tulisan ‘Kutai Kartanegara’. “Tulisannya itu nanti kelihatannya kecil saja, padahal itu besar itu dengan ukuran per huruf-nya 4x3 meter. Kemarin saya cukup kaget juga sambil membayangkan kayak apa para pekerja ini nanti naik memasang ukuran sebesar ini,” terangnya.
Di samping terkendala pengiriman barang dari Jepang, Slamet menegaskan faktor cuaca sangat mempengaruhi dalam proses cepat lambatnya proyek pemasangan lampu yang menghabiskan Rp. 6,8 milliar ini.
“Yang bahaya dan menjadi kendala itu tentu pas hujan, kan bahaya kalau terpeleset. Makanya kita minta bantuan Dishub dan Satpol PP, karena saat pekerja naik di atas jembatan itu sangat terasa sekali goyangannya ketika mobil melintas dan kalau truk besar maka disuruh berhenti dulu dan jalan perlahan,” tegasnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan