“Rancangan artinya mudah-mudahan beberapa waktu ke depan ini bisa ada perubahan terutama pendapatan kita untuk bisa kita maksimalkan pembangunan kita di 2021,” katanya kepada awak media.
Sunggono menjelaskan penyerapan hingga Oktober 2020 ini sudah sebesar 60 persen. “Penyerapan fisik dan penyerapan keuangan. Yang penyerapan fisik sudah kurang lebih 63 sampai 65 persen. Kalau keuangan hingga di bulan Oktober sudah 50 persen lebih, mudah-mudahan di bulan ini sudah sampai di atas 60 persen dan kalau fisik mungkin sudah di atas 70 persen,” jelasnya.
Untuk pendapatan dipastikan mengalami penurunan yakni menurun sebesar Rp 1,2 triliun. “Pendapatan kita Rp3,23 sekian kemudian di luar itu kita ada silpa sekitar Rp300an miliar sehingga pendapatan kita Rp 3,64 di tahun depan, jadi ada penurunan Rp1,2 sekian T,” bebernya.
Karena pendapatan mengalami penurunan jadi secara otomatis pendapatan dari DBH juga mengalami penurunan. Sama dengan tahun sebelumnya DBH menjadi penyumbang terbesar dalam komposisi APBD Kukar.
“DBH seperti tahun yang lalu masih di atas 75 persen dari APBD kita, kalau mengalami penurunannya itu kan secara akumulatif yang disebabkan itu bukan besarannya tapi nilainya, karena tergantung nilai tukar rupiah dan lainnya, tapi kontribusinya sama seperti tahun kemarin yaitu 75 persen lebih,” terangnya.
Sunggono menegaskan, selain DBH, DAU dan DAK juga mengalami penurunan. hal ini karena terkoreksi dan kebijakan pemerintah pusat. “Semua terkoreksi dan kebijakan pemerintah pusat serta semua provinsi kan mengalami permasalahan yang sama (dampak covid, red),” tegasnya.
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan