Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kukar, Slamet Hadiraharjo kepada Koran Kaltim, Rabu (18/11).
Menurutnya, jumlah desa yang belum teraliri listrik berkurang, ini diketahui setelah ESDM melakukan koordinasi dengan pihak PLN.
“Sebelumnya itu memang benar jumlah desa yang belum berlistrik ada 31, tapi setelah koordinasi dengan PLN maka jumlahnya tersisa 17 desa,” kata Slamet.
Slamet menyebutkan 17 desa itu tersebar di beberapa kecamatan, khususnya di kawasan kecamatan Hulu Mahakam Kukar, seperti Kecamatan Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun, Muara Muntai dan Kecamatan Muara Kaman.
Di Kenohan ada tiga desa, yakni Desa Lamin Telihan, Lamin Pulut dan Teluk Muda. Kecamatan Muara Wis yakni Desa Melintang , Enggelam dan Desa Muara Enggelam.
Kecamatan Kota Bangun yakni Desa Muhuran, Sebelimbingan. Kemudian di Kecamatan Muara Muntai yakani Desa Perian, Kayu Batu dan Desa Tanjung Batuq Harapan.
Terakhir di Kecamatan Muara Kaman yakni Desa Tunjungan, Menamang Kiri, Menamang Kanan, Kupang Baru, Bukit Jering dan Desa Liang Buaya.
“Yang pasti kami terus berkoordinasi dengan PLN, karena jujur kami akui kendala yang pertama adalah tidak mempunyai kewenangan membangun jaringan, itu mutlak kewenangan PLN,” ungkapnya.
Di sisi lain, PLN sebagai BUMN tentu mempertimbangkan untung rugi saat akan membangun jaringan di kawasan tertentu.
“PLN itu kalau membangun jaringan tentu berpatokan pada profit, untung rugi. Membangun jaringan membutuhkan biaya besar, namun jika konsumen sedikit, jadi tidak visible dari segi ekonomi,” bebernya.
Namun, Lanjut Slamet, harusnya PLN tetap berupaya agar suatu kawasan, khususnya dekat kota juga bisa menikmati layanan listrik.
“Ya meskipun ada hitung-hitungan untung ruginya perusahaan, tetapi kembali lagi pada fungsi dan tugasnya BUMN untuk memberikan pelayanan ke masyarakat,” tegas Slamet.
Penulis : */Heriansyah
Editor : Bambang Irawan