Pasalnya, sebelum meninggalnya, pasien ini dirawat dengan perlakuan sebagaimana pasien non Covid-19. Dalam artian, pasien ini tidak diisolasi. "Istri saya itu menemani almarhum selama lima hari dirawat," kata adik ipar alrmahum, Dwi Suryanto kepada Korankaltim.com.
Pihak keluarga tidak menyangka kalau pasien yang selama ini dirawat sebagaimana pasien biasa kemudian diperlakukan layaknya jenazah pasien Covid-19. Dwi menyebutkan, kakak iparnya itu dibawa ke rumah sakit karena ada keluhan sesak di dada yang mengarah pada penyakit jantung.
Pengakuannya, almarhum tidak menunjukan gejala Covid-19 seperti demam, batuk, pilek dan sebagainya selama dirawat di UGD sejak lima hari lalu. Tim Gakkum pun turun ke lokasi agar kemudian terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat ini pun petugas dari TNI-Polri dan Satpol PP masih berjaga-jaga di depan rumah sakit, sementara lubang kuburan jenazah masih dipersiapkan di pemakaman Kelambu Kuning, Tenggarong untuk di makamkan sore ini.
Dwi juga menyebutkan, hasil swab kali kedua almarhum juga belum jelas hasilnya. Lima hari yang lalu, hasil swab pertama pasien ini dinyatakan negatif saat awal-awal pasien dibawa ke RSUD AM Parikesit.
Jauh dari dugaan kakak iparnya itu terpapar Covid-19, dia bahkan mempertanyakan langsung kepada petugas medis yang melepas alat penunjang hidup pasien soal kapan jenazah ini bisa dibawa pulang. "Tapi saya dibuat bolak balik, tahu-tahu jenazah sudah di dalam peti," bebernya.
Dwi mengaku ikhlas akan proses pemakaman yang tak biasa ini. "Tapi disayangkan sekali, penanganannya selama lima hari ini oleh pihak rumah sakit ini, itu yang bikin saya jengkel," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan