Dalam pemaparannya, Anies Beva Centora menyampaikan kronologis awal, pasien bersama keluarga datang ke rumah sakit pada Rabu (23/9/2020) malam, dengasn kondisi pasien sadar penuh. Namun, dari hasil pemeriksaan, pasien mengalami sesak napas berat dan segera ditindaklanjuti oleh dokter UGD yang mengarah Covid-19.
“Kami kemudian berikan edukasi kepada keluarga, untuk discreening di poly covid, waktu itu memang pihak keluarga seperti tidak terima kalau dicurigai ke arah covid,” ungkap Anies.
Akhirnya, pihak rumah sakit melakukan penanganan di poli covid, dengan pertimbangan untuk mempermudah penanganan karena ada radiologi khusus.
“Memang kami lihat dan periksa pasien ke arah Covid-19, dan kondisinya memang hampir menyelimuti paru. Jam 12 malam, kami ambil (sampel) swab-nya,” terangnya. Ketika diambil swab, lanjut Anies pasien mengalami sesak berat. Hinga pukul 02.30 WITA, napas makin berat. "Sampai akhirnya dinyatakan meninggal pada pukul 3 pagi,” tambah Anies.
Ia menceritakan, saat itu keluarga panik dan pengunjung keluarga juga semakin banyak. Untuk itu, diberikan penjelasan bahwa jenazah tidak boleh dibawa, sembari menjelaskan bahwa pihak Rumah Sakit masih menentukan jenis pemakamannya seperti apa, apakah harus protocol atau bukan.
“Tapi keluarga menolak. Menunggu hasil swab, keluarga juga tidak mau dilakukan penanganan pemakaman protocol covid. Sampai akhirnya jenazah dibawa paksa oleh keluarga tanpa melalui prosedur dari pihak rumah sakit. Pasien tidak sempat dibawa ke kamar mayat,” jelasnya.
“Padahal tim petugas jenzah kami sudah menyiapkan, cuman ternyata lebih cepat pihak keluarga yang memasukkan jenazah ke mobil pribadi-nya, jadi keluarga memang sama sekali tidak mau,” timpal Anies.
Diwaktu bersamaan, Yuli menerangkan, khusus untuk kasus ini, pihak rumah sakit sudah berupaya mengedukasi prosesnya sedari awal kepada keluarga pasien. “Tapi ya apabila memang pihak keluarga ya gimana lagi. Dan keluarga juga sudah kami sampaikan langsung tunjukkan langsung hasil-nya. Dan kami akan melakukan tracking pada yang kontak erat dan pada yang melayat,” terangnya.
Yuli menegaskan akhirnya pihak keluarga sudah memahami, istri yang bersangkutan siap untuk dilakukan tracking pada semua yang kontak erat. Yuli bersama Satgas Covid-19 memberikan apresiasi kepada keluarga inti yang mau bekerjasama.
“Jadi ini kita tangani bersama-sama. Mudah-mudahan tidak banyak yang berdampak pada permasalahan ini. Jadi kami tegaskan lagi disini, apabila memang dari petugas kesehatan itu menganjurkan pemakaman dengan cara covid, maka sebaiknya itu dipatuhi karena itu menjaga kita semua, mencegah penyebaran lebih luas,” tegasnya.
“Khusus kasus ini untuk per hari ini sudah 100 yang kita tracking untuk di swab, kemungkinan ya bisa bertambah, semoga saja tidak banyak yang terpapar,” pungkas Yuli.[]
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi