Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Mahulu Suhuk saat meninjau warga terdampak banjir bersama BPBD dan Dinas Sosial sekaligus menyalurkan bantuan Rabu (20/5/2026) sore kemarin.
Suhuk mengatakan ketinggian air di Kampung Datah Bilang diperkirakan mencapai lebih dari satu meter. Pemerintah daerah berharap debit air segera surut agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal. “Kalau melihat kondisi air yang ada, mungkin sudah semeter lebih. Mudah-mudahan banjirnya cepat surut,” harap Suhuk.
Pemkab hadir langsung di lokasi terdampak untuk memastikan kondisi masyarakat sekaligus membawa bantuan darurat sesuai kemampuan pemerintah daerah.
“Kami datang membawa bantuan. Memang ini semampunya dulu, tapi ke depan kita usahakan fokus untuk kegiatan seperti ini karena betul-betul dirasakan masyarakat terdampak banjir,” ucap Suhuk lagi.
Selain penanganan bantuan, pemerintah daerah juga menyoroti persoalan kelistrikan di wilayah Long Hubung yang masih bergantung pada fasilitas PLN di Kampung Datah Bilang.
Lokasi fasilitas PLN berada di titik rendah sehingga rawan terdampak banjir. “Posisi PLN disini paling rendah menurut kami, karena itu sudah diwacanakan untuk direlokasi supaya lebih aman,” paparnya.
Pemkab juga mempertimbangkan faktor keselamatan masyarakat saat listrik tetap menyala di tengah banjir karena sebagian besar warga menggunakan pompa air listrik atau pompa air yang berada di bawah rumah. “Jangan sampai nanti PLN hidup justru rawan untuk masyarakat. Karena rata-rata masyarakat pakai pompa air listrik dan posisinya di bawah,” ujarnya.
Pemkab Mahulu berencana melakukan pengaturan distribusi listrik saat banjir dengan mempertimbangkan kondisi ketinggian air di tiap wilayah.
“Kalau memang banjirnya tidak terlalu tinggi, mungkin sebagian tetap nyala dan sebagian dipadamkan untuk keamanan,” sebut Suhuk.
Suhuk juga menyoroti persoalan jaringan telekomunikasi yang sering terganggu saat listrik padam akibat banjir. Sebelumnya Bupati Mahulu Angela Idang sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar tower telekomunikasi memiliki sumber daya listrik mandiri. “Karena tower masih menggunakan arus dari PLN. Kita berharap ke depan mereka punya power sendiri supaya saat PLN mati jaringan tetap hidup,” jelasnya.
Keberadaan jaringan komunikasi sangat penting saat kondisi bencana untuk mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat maupun koordinasi penanganan darurat. “Kalau jaringan mati susah memberikan informasi ke masyarakat,” pungkas Suhuk.
Editor: Aspian Nur