Di Kampung Tering Lama, ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai dada orang dewasa. Aktivitas masyarakat pun mulai lumpuh akibat permukiman, akses jalan, hingga fasilitas umum terendam banjir.
Pantauan Korankaltim.com di Kampung Tering Seberang dan Tering Lama menunjukkan genangan air menutupi akses jalan serta halaman rumah warga. Di beberapa titik, ketinggian air diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2 meter. Sejumlah kendaraan milik warga juga terlihat terparkir dan tidak dapat digunakan akibat tingginya debit air.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kubar, Suwalas Daya Guna, mengatakan hingga sore hari debit air masih terus mengalami kenaikan.
“Untuk wilayah Kampung Tering Seberang, ketinggian air saat ini sudah mencapai sekitar satu meter di atas badan jalan. Sementara di permukiman warga, khususnya di beberapa titik di Kampung Tering Lama, genangan air dilaporkan sudah mencapai dada orang dewasa,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, kondisi banjir diperparah akibat hujan deras yang terjadi pada malam hari serta kiriman air dari wilayah Mahulu yang masih terus mengalir melalui Sungai Mahakam.
“Berdasarkan pantauan hingga sore hari ini, debit air masih terus mengalami kenaikan dan belum menunjukkan tanda-tanda surut,” katanya.
Tidak hanya merendam permukiman warga, banjir juga mulai mengganggu aktivitas pelayanan masyarakat. Sejumlah fasilitas umum seperti puskesmas, sekolah, dan tempat ibadah ikut terendam banjir sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Salah seorang warga Tering Lama, Faran, mengatakan air mulai masuk ke rumahnya sejak dini hari dan terus mengalami kenaikan hingga sore. Untuk mengantisipasi kerusakan barang, ia bersama keluarga mulai memindahkan barang-barang berharga ke lantai dua rumah.
“Air terus naik sejak malam tadi. Sekarang sebagian ruangan rumah sudah tergenang dan kami mulai mengamankan barang-barang penting ke lantai dua,” ujarnya.
Menurut Faran, sebagian warga memilih tetap bertahan di rumah meski banjir semakin tinggi. Mereka khawatir rumah dalam keadaan kosong dan rawan terjadi pencurian apabila ditinggalkan mengungsi.
“Banyak warga masih memilih bertahan karena takut maling. Jadi sementara ini tetap menjaga rumah masing-masing,” katanya.
Kondisi banjir juga membuat aktivitas masyarakat menjadi sulit. Warga yang ingin keluar maupun masuk kampung kini harus menggunakan jasa perahu ketinting karena kendaraan roda dua maupun roda empat tidak lagi memungkinkan melintas.
Untuk sekali perjalanan, warga harus merogoh biaya sekitar Rp20 ribu per orang agar bisa menyeberangi kawasan yang terendam banjir.
Saat ini BPBD Kubar terus melakukan pemantauan perkembangan banjir di lapangan melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusdalops. Petugas juga bersiaga apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi tambahan bagi warga terdampak.
Selain Kecamatan Tering, banjir juga mulai dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain seperti Long Iram, Mook Manaar Bulatn, Melak, Muara Pahu, dan Penyinggahan. Namun, BPBD masih terus melakukan pendataan terkait perkembangan kondisi di daerah tersebut.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat curah hujan masih cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya itu, diminta mengamankan barang berharga dan dokumen penting serta mengawasi anak-anak agar tidak bermain di sekitar arus banjir.
Editor: Erwin