Jalan yang sebelumnya rusak kini ditimbun menggunakan batu, namun ukuran material yang digunakan dinilai terlalu besar dan menyulitkan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.
Sejumlah warga menyebut, kondisi tersebut membuat perjalanan menjadi tidak nyaman bahkan berisiko. Jalan yang seharusnya lebih baik dilalui setelah perbaikan, justru terasa bergelombang dan tidak stabil akibat timbunan batu berukuran besar.
“Kalau kendaraan besar seperti truk mungkin tidak terlalu terasa, tapi kalau motor sangat terganggu. Apalagi ibu-ibu yang bawa belanjaan dari pasar, pasti kesulitan lewat,” ujar Fitra, warga Sekolaq Darat, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, penggunaan batu berukuran besar tanpa perataan yang optimal membuat roda kendaraan sulit mendapatkan pijakan yang stabil. Kondisi ini tidak hanya memperlambat laju kendaraan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengendara.
Warga juga menyoroti tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas di jalur tersebut, khususnya truk pengangkut crude palm oil (CPO). Aktivitas tersebut diduga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan yang terus berulang.
“Setiap hari banyak truk besar lewat, jadi jalan cepat rusak. Tapi kalau perbaikannya seperti ini, kami yang pakai motor jadi susah,” tambahnya.
Ia menilai, meskipun penanganan jalan bersifat sementara, metode perbaikan seharusnya dilakukan dengan lebih tepat. Salah satunya dengan menggunakan material batu berukuran lebih kecil seperti batu split agar lebih aman dilalui kendaraan roda dua.
“Ini jalan umum, jangan disamakan dengan jalan di areal perkebunan. Harusnya ada standar yang diperhatikan,” tegasnya.
Warga juga berharap pihak kontraktor yang menangani jalan nasional tersebut dapat segera melakukan pengerjaan secara maksimal di lapangan. Pasalnya, hingga kini aktivitas perbaikan dinilai belum terlihat merata di seluruh ruas jalan.
“Kami hanya mendengar sudah ada pekerjaan, tapi di ruas jalan kami belum terlihat. Kami harap ada kejelasan timeline pengerjaannya,” lanjutnya.
Selain itu, warga turut menyoroti perlunya pengawasan terhadap kendaraan angkutan berat, khususnya truk dengan muatan berlebih atau over dimension over load (ODOL), yang dinilai mempercepat kerusakan jalan.
“Pengawasan terhadap truk juga penting, jangan sampai muatan berlebih terus dibiarkan karena itu memperparah kondisi jalan,” ujarnya.
Diketahui, ruas jalan tersebut berstatus sebagai jalan nasional, sehingga perbaikan menjadi kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, warga berharap ada perhatian serius terhadap metode penanganan yang digunakan, agar tidak justru menimbulkan persoalan baru di lapangan.
Warga meminta agar penanganan jalan tidak hanya sebatas penimbunan sementara, melainkan dilakukan dengan standar yang lebih baik dan memperhatikan seluruh pengguna jalan, baik kendaraan berat maupun kendaraan ringan.
Editor: Erwin