Tradisi sakral yang diwariskan leluhur ini bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan dan semangat pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Laliq Ugal ini menampilkan ratusan penari dari sepuluh kampung yang menari bersama mengelilingi lapangan utama dengan iringan musik tradisional Bahau.
Gerakan tarian yang serempak dan penuh semangat mencerminkan kekompakan masyarakat sekaligus menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Sekretaris Daerah Kubar, Ayonius, yang hadir membuka kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas tingginya antusias masyarakat.
Menurutnya, pelaksanaan Hendaq Pekayang memiliki banyak nilai positif bagi masyarakat, tidak hanya mempererat rasa kekeluargaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui aktivitas jual beli produk lokal.
“Saya selalu tekankan, hasil karya masyarakat harus ditampilkan dan dipasarkan. Dengan begitu, para pengunjung bisa membeli oleh-oleh dan merasakan langsung hasil produk lokal,” ujarnya kepada Korankaltim.com.
Lanjutnya, Hendaq Pekayang merupakan bagian dari ritual Laliq Ugal yang menandai musim tanam padi bagi masyarakat Dayak Bahau.
Tradisi ini, kata dia, sarat makna spiritual dan nilai gotong royong yang harus diwariskan kepada generasi muda.
Pemerintah daerah, lanjutnya, berkomitmen mendukung kegiatan ini agar menjadi agenda tahunan resmi dan dikenal hingga tingkat nasional.
“Kita ingin menjual pariwisata budaya secara profesional. Kalau bisa, jadwalnya pasti dan terencana, supaya wisatawan dapat menyiapkan kunjungan mereka dengan baik,” imbuhnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kubar FX Sumardi menilai kegiatan ini sangat potensial dikembangkan sebagai atraksi wisata unggulan.
“Kita akan mengagendakan kegiatan ini sebagai agenda tahunan. Harapannya, dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara karena keunikannya yang melibatkan ribuan masyarakat,” katanya.
Senada, Ketua Pekat Huwang Bahau, Hermanus Tingang menjelaskan Hendaq Pekayang memiliki makna silaturahmi antar kampung dan menjadi bagian penting dari Laliq Ugal, pesta tanam padi yang dilakukan serentak oleh sepuluh kampung Bahau.
“Tujuannya untuk mentransformasikan nilai budaya kepada generasi muda agar mereka mencintai dan memiliki rasa bangga terhadap adatnya,” tuturnya.
Pelaksanaan Hendaq Pekayang 2025 mengangkat tema “Harmoni Kebersamaan dalam Berbudaya”, yang mencerminkan semangat masyarakat Bahau dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menjadikannya sebagai potensi ekonomi dan pariwisata yang bernilai.
Editor: Erwin