Informasi kebakaran diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat sekitar pukul 11.54 WITA. Tim reaksi cepat segera dikerahkan dan tiba di lokasi sekitar pukul 12.15 WITA.
“Perkiraan sementara luasan yang terbakar dari konfirmasi pemilik lahan sekitar satu hektare,” ujar petugas BPBD Kubar, Arif kepada Korankaltim.com.
Dalam pelaksanaan pemadaman, petugas cukup kesulitan, sebab material yang terbakar merupakan lahan gambut dengan ketebalan hampir satu meter di beberapa titik.
Kondisi itu membuat api cepat merambat dan sulit dipadamkan karena membutuhkan air dalam jumlah besar.
Selain itu, ketersediaan air juga menjadi tantangan. Petugas harus mengambil suplai dari hidran yang berjarak lebih dari satu kilometer dari lokasi kebakaran.
Dalam operasi ini, BPBD mengerahkan satu unit water supply dan empat unit slip on. Setelah berjibaku selama hampir tiga jam, api akhirnya berhasil dipadamkan.
Menurut Arif, cuaca kering dalam beberapa hari terakhir ikut memperbesar risiko kebakaran. Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Kutai Barat diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
Kondisi ini membuat sejumlah kawasan di Kubar masuk kategori rawan karhutla, terutama daerah dengan lahan gambut, semak belukar, dan perkebunan.
Arif mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam melakukan pembukaan lahan.
“Aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar harus diperhatikan sekat bakarnya, jam bakarnya, dan selalu diawasi serta dijaga lahannya,” imbaunya.
Kutai Barat sendiri kerap menghadapi ancaman karhutla saat musim kemarau. Beberapa kecamatan yang dinilai rawan antara lain Sekolaq Darat, Melak, dan Tering. Minimnya curah hujan serta kondisi vegetasi kering menjadi faktor utama meningkatnya potensi kebakaran.
Editor: Erwin