Kegiatan ini berlangsung di Aula Dekranasda, Senin, 15 September hingga 15 November 2025 mendatang.
Ketua Dekranasda Kubar, Maria Christina menekankan bahwa batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan warisan budaya tak benda yang sarat makna dan filosofi.
Pelatihan pun diakuinya bukan hanya soal belajar teknik membatik, tapi juga menumbuhkan semangat berkarya.
“Harapan kami, peserta bisa menekuni keterampilan ini dan mengembangkannya menjadi peluang ekonomi produktif bagi masyarakat,” ungkapnya kepada Korankaltim.com.
Sementara itu, Head Health, Safety, and Environment Community Development, Cipto Hadi Purnomo menambahkan, pelatihan membatik dipilih karena batik adalah warisan nasional yang dimiliki setiap daerah.
“Harapannya, Kubar memiliki motif batik yang dikenal di Indonesia, karena batik dapat menjadi buah tangan ketika ada kunjungan pejabat atau tamu ke Kubar.
“Pelatihan ini juga diarahkan pada ibu-ibu sekitar tambang agar bisa menambah keterampilan sekaligus meningkatkan pendapatan,” ujarnya.
Instruktur membatik, Sukarni, menjelaskan bahwa hari pertama peserta diperkenalkan dasar-dasar membatik, mulai menggambar pola, menjiplak di kain, hingga belajar mencanting menggunakan malam.
“Proses membatik panjang sekali. Kalau hanya satu kali proses, batik bisa langsung dicelup warna dan hasilnya sederhana. Namun, kalau diulang dua atau tiga kali, nilainya akan lebih tinggi. Di situlah letak seni batik,” tuturnya.
Ia menambahkan, Kubar memiliki banyak motif tradisional yang bisa dikembangkan, seperti sulaman sarut, anggrek hitam, dan burung enggang.
Salah satu peserta, Octavianus Heri dari Linggang Mencelew, mengaku senang mengikuti pelatihan ini.
“Kegiatan ini melestarikan budaya kita supaya semakin dikenal orang. Kalau ukir-mengukir atau kerajinan lain mungkin sudah banyak di Kubar, tapi untuk membatik ini masih sangat jarang, bahkan bisa dibilang belum ada di sini. Jadi memang perlu diterapkan agar ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.
Ia juga berterima kasih kepada pemerintah yang telah membuka kesempatan ini. “Baru pertama kali saya ikut membatik, rasanya sangat berharga. Pemerintah sudah membina supaya tradisi kita tidak tenggelam. Saya harap kegiatan seperti ini terus berlanjut agar warisan budaya kita tetap lestari,” tutupnya.
Editor: Erwin