Kegiatan ini merupakan upaya untuk melestarikan warisan budaya Nusantara sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-73.
Kapolres Kubar, AKBP Boney Wahyu Wicaksono selaku pembina Bhayangkari, menyampaikan bahwa membatik bukan sekadar keterampilan membuat kain, melainkan sarat akan nilai-nilai kesabaran, ketelitian, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni semata, tetapi dapat berlanjut menjadi peluang usaha yang mampu meningkatkan perekonomian keluarga.
“Batik adalah warisan budaya nasional yang harus kita lestarikan. Dengan pelatihan ini, harapannya lahir pengrajin lokal yang bisa mengembangkan UMKM batik khas Kutai Barat. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ungkap Boney kepada Korankaltim.com.
Pelatihan tersebut terselenggara berkat kerja sama Bhayangkari Polres Kubar, PT Bharinto Ekatama (BEK), dan PT Trust.
Perwakilan PT BEK, Kristinawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wadah keterampilan baru bagi ibu rumah tangga.
“Kami ingin mendorong ibu-ibu agar bisa memanfaatkan keterampilan membatik sebagai tambahan penghasilan keluarga. Ke depan, kami berharap lahir motif-motif khas Kubar yang bisa menjadi ikon daerah,” ujarnya.
Untuk memberikan pendampingan langsung, panitia menghadirkan Sukarni, pengrajin batik asal Yogyakarta. Ia menilai potensi peserta luar biasa karena mampu menghasilkan berbagai motif baru yang terinspirasi dari kekayaan lokal.
“Hari ini saya melihat ibu-ibu berhasil membuat motif burung enggang, perisai, hingga macan. Motif ini sangat khas Kalimantan dan punya nilai jual tinggi,” katanya.
Peserta kegiatan berasal dari Bhayangkari, Persit, PKK, serta binaan PT BEK. Antusiasme terlihat sejak awal, di mana para ibu tidak hanya belajar teknik dasar membatik, tetapi juga menuangkan kreativitas dalam menciptakan pola yang bisa menjadi ciri khas batik Kubar di masa mendatang.
Editor: Erwin