“Meskipun baru sedikit lahan yang berjalan, diharapkan nantinya seluruh luasan lahan tersebut bisa dikembangkan lagi,” kata Perwakilan PT GBPC, Yulius Amarto.
Ketua Kelompok Tani Kemangk Maju Florensius Darrin secara terpisah menjelaskan, lahan pasca tambang yang dikelola ini merupakan kerjasama dengan PT GBPC.
“Dari 137 haktare lahan kebun sawit, baru sekitar 103 hektare yang sudah mempunyai hasil produksi, kurang lebih 693,2 ton atau sekitar Rp1,7 miliar,” ujar Darrin.
Hasil yang didapat belum dikurangi biaya pengelolaan yang mencapai Rp1,3 miliar, sehingga ada sekitar Rp400 juta pendapatan yang dihasilkan dari pengelolaan pemanfaatan lahan pasca tambang dari kerja sama dengan pihak perusahaan.
“Hasil yang didapat 50 persen diserahkan kepada pemilik lahan dan untuk biaya administrasi lainnya. Sehingga jumlah yang tersisa untuk kas sekitar Rp64 juta,” sebutnya.
Meskipun selama ini baru mendapatkan hasil yang belum terlalu besar, namun Darrin optimis ke depannya pengelolaan ini akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Apalagi dengan dukungan penuh dari perusahaan serta pemerintah daerah. Sebab, tidak dipungkiri masih ada beberapa hambatan yang dihadapi dan membutuhkan perhatian.
“Kendalanya akses jalan. Kalau seandainya akses jalan di areal perkebunan ini sudah bagus, pastinya akan memudahkan pengelolaan, sehingga hasilnya juga lebih maksimal,” tutup Darrin.
Penulis: */M Yasin Handayan
Editor: Aspian Nur