Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismed Kusasih, menyatakan hipertensi telah masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang wajib dijalankan pemerintah daerah, bersama penyakit diabetes melitus.
Menurutnya, fokus penanganan hipertensi dilakukan karena tingginya risiko komplikasi yang dapat berujung pada kematian apabila tidak ditangani secara dini dan berkelanjutan.
“Hipertensi ini ujung-ujungnya yang dikhawatirkan angka kematiannya cukup tinggi,” kata Ismed.
Dijelaskannya, hipertensi bukan lagi penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Perubahan pola hidup masyarakat membuat kondisi tersebut mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan hingga mereka yang baru menginjak usia 20-an.
“Kalau dulu mungkin usia di atas 45 atau 50 tahun. Sekarang usia 20-an juga ada,” katanya.
Gaya hidup pun disebut menjadi faktor pemicu terbesar. Konsumsi garam berlebih, ketergantungan pada makanan instan, pengaturan pola makan yang buruk, hingga stres menjadi penyebab utama meningkatnya kasus tersebut.
“Kalau hipertensi pasti konsumsi garam yang tinggi,” jelasnya.
Kendati faktor usia tetap memengaruhi kerentanan seseorang terhadap hipertensi karena penurunan kondisi fisik seiring waktu, gaya hidup modern mempercepat risiko kemunculannya di usia muda.
“Sekarang kebiasaan pola makan tidak diatur dengan baik. Apalagi makanan instan sekarang mudah ditemukan di mana-mana,” tuturnya.
Berdasarkan data Dinkes Samarinda, sasaran penanganan hipertensi pada 2025 mencapai sekitar 217 ribu orang dengan capaian pelayanan hampir 99 persen.
Upaya tersebut berlanjut hingga pertengahan 2026 ini sebagai bagian dari program wajib pemerintah dalam memenuhi target pelayanan kesehatan.
Meski demikian, Ismed menegaskan hipertensi sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini.
Langkah promotif dan preventif, seperti olahraga rutin, menjaga asupan nutrisi, beristirahat cukup, serta mengelola stres, jauh lebih penting dibandingkan pengobatan saat penyakit berkembang menjadi kronis.
“Kalau sudah membutuhkan obat, biasanya harus dikonsumsi terus-menerus. Karena itu yang penting bagaimana kita melakukan penjagaan,” tandasnya.
Editor: Erwin