Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menerangkan, angka kematian ibu mengandung maupun melahirkan itu memang menjadi indikator utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat yang salah satunya adalah angka kematian hidup tinggi. Sebab, ibu mengandung memiliki banyak risiko terkait kesehatan baik pada ibunya maupun janinnya.
"Makanya program kesehatan reproduksi itu menjadi perhatian utama dalam kegiatan pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan melahirkan," kata Jaya, Minggu (12/2/2023).
Beberapa kegiatan yang dilakukan yakni memberikan pelayanan kehamilan satu sampai enam kali yang wajib dilakukan, maupun cakupan pelayanan lain-lainnya.
Misal seperti perempuan sebelum hamil dilakukan vaksinasi agar tidak terkadi penyakit tetanus pada ibu dan bayi. "Sehingga ketika melahirkan pada bayi juga tidak terkena penyakit," urainya.
Kemudian, dilakukan pemberian pemberian tablet penambah darah karena memang untuk ibu mengandung darahnya terbagi dua dengan anak makanya setiap hari perlu untuk minum tablet penambah darah. "Hemoglobin (HB)-nya juga harus lebih 12 ga boleh kurang," ungkap Jaya.
Selanjutnya, dilakukan USG untuk mengontrol apakah janinnya mengalami gangguan kesehatan atau pertumbuhan tidak bagus. Skrining kesehatan seperti tekanan darah yang harus normal, berat badan janin yang harus sehat. Karena untuk ibu hamil tidak boleh memiliki tekanan darah tinggi sebab dapat menyebabkan komplikasi keracunan kehamilan.
"Ibu-ibu bisa kejang kejang dan menyebabkan kematian bayinya enggak tumbuh normal jadi janinnya bisa meninggal makanya harus dilakukan skrining untuk mengantisipasi gangguan keracunan kehamilan," jelasnya.
Pihaknya berupaya menekan angka kematian bagi ibu dengan melakukan intervendi agar di tahun 2023 ini bisa di bawah dari 40 kasus. "Ini yang saya harapkan," akunya.
Untuk diketahui, jumlah ibu mengandung ataupun melahirkan yang meninggal di tahun 2021 sebanyak 168 orang, tahun 2022 turun menjadi 73 orang.
Editor: Rusdianto