Dari hasil pemeriksaan laboratorium bagus, hasil CT Scan, ada pendarahan minimal, dari dokter bedah saraf tidak ada indikasi untuk dilakukan operasi dari rontgen tidak didapatkan patah tulang.
“Cuma memang saat itu ditemukan ada luka terbuka di kepala. Jadi diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi hari itu. Karena berkaitan persiapan puasa sehingga pukul 21.00 WITA baru dilakukan tindakan operasi, dengan pembiusan umum dan operasi berjalan lancar,” ujar Ronald melansir dari Korankaltara.com Kamis (15/3/2024) hari ini.
Setelah operasi, Yusuf kembali dilakukan observasi di ruang intensif care dan kondisi pasien setelah operasi dalam keadaan sadar dan stabil, serta tidak memerlukan alat bantuan napas seperti ventilator dan hari Senin (12/3/2024) dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya stabil dan sadar. Secara fisik juga demikian dalam kondisi baik yang membuat sang pilot sudah boleh pulang sejak Rabu (14/3/2024) kemarin.
“Dari pasien sendiri mengatakan siap untuk pulang. Memang keluarganya juga menanyakan hal yang sama terkait penerbangan. Tapi pasien bilang siap dan dari dokter psikiatri sudah mendapatkan terapi, kemarin pasien sudah dievaluasi secara mendetail oleh dokter psikiatri, sehingga bisa dinilai kondisi pasien,” paparnya.
Jika melihat pemberitaan, kondisi pesawat yang hancur, meski tak tahu seperti apa mekanisme jatuhnya pesawat, namun kondisi pasien ditemukan masih stabil. “Cedera kepala ringan, sadar baik, bisa komunikasi, bisa ceritakan kejadian saat dia di hutan. Menurut saya ini amazing,” katanya.
Diketahui, pada kecelakaan udara tersebut Captain M Yusuf asal Bekasi mengalami luka di bagian kepala sementara mekanik Deni Sobali yang berusia 35 tahun asal Pangandaran meninggal dunia.
Pesawat yang mereka tumpangi yaitu Pilatus Smart Air Aviation tipe PC6 PK-SNE jatuh di Binuang, Nunukan, Kalimantan Utara Jumat (8/3/2024) siang saat membawa 583 kilogram sembako dari Bandara Tarakan dengan tujuan Krayan, Nunukan.
Editor: Aspian Nur