“Dari kampung-kampung atau desa-desa kesulitan keluar, karena tidak ada BBM. Kalau dulu, kendaraan setiap hari lalu lalang di Krayan. Sekarang sepi karena banyak kendaraan tidak keluar,” terangnya kepada Koran Kaltara, Jumat (18/12/2020).
Dia menjelaskan kelangkaan ini terjadi karena pesawat Air Tractor AT 802 PK-PAY (warna kuning) kapasitas 4 ton dengan supply point dari Fuel Terminal (FT) Tarakan, tidak beroperasi.
“Jadi pilotnya pesawat dari Kanada itu masa lisensinya sudah habis. Jadi saat ini pilot tengah memperbarui (lisensi) dan memperpanjang,” ujarnya.
Biasanya, kata dia, maskapai ini dua kali penerbangan dalam sehari. Bahkan tiga kali jika dalam kondisi cuaca bagus. “Nah, sekarang pesawat yang masuk ini pesawat Cesna yang daya tampung lebih sedikit hanya 1.200 liter yang dikemas dalam drum. Ini tidak cukup untuk lima kecamatan di Krayan,” terangnya.
Sebelumnya, kata dia, pesawat Cesna ini ada dua armada. Namun, karena satu unitnya kembali ke Balikpapan, jadi hanya satu pesawat yang melayani penerbangan ke Krayan.
“Itu juga penerbangannya tergantung cuaca. Kadang sehari sekali atau kalau bagus dua kali penerbangan dalam sehari,” ungkapnya.
Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Pertamina, namun mereka belum bisa memastikan kapan pesawat bermuatan 4 ton itu kembali beroperasi.
“Mudah-mudahan minggu depan. Katanya. Tapi, itu juga tidak bisa dipastikan karena pilotnya masih memperpanjang masa lisensinya,” tambahnya.
Menurut dia, ada beberapa pedagang lokal yang mendatangkan BBM dari Malianu, namun harganya mahal, yakni Rp35 ribu per liter. Itupun dalam jumlah terbatas.
“Nah, dengan tiga penerbangan pesawat Cesna ini hanya 3,6 ribu liter. Kalau dibagi 5 kecamatan berapa dapatnya. Kan, sudah ada jatah per kecamatan. Seperti Krayan Selatan dan Induk itu 4 ton,” pungkasnya.
Terkadang, kata dia, antrean panjang ini membuat masyarakat kecewa karena kehabisan dan tidak kebagian. Apalagi, di saat seperti ini yang masuk perayaan Natal dan tahun baru, sangat dibutuhkan masyarakat.
“Mereka kadang kecewa. Antrean sudah lama, tapi belum sampai gilirannya (BBM) sudah habis. Jadi mereka tunggu lagi besok harinya. Belum lagi mereka hanya dijatah 3 liter per minggu dengan kartu kendali,” bebernya.
Sementara itu, anggota DPRD Nunukan dapil Krayan, Welson membenarkan kelangkaan BBM di Krayan tersebut.
“Ini sudah minggu mereka antre. Kalau pun sehari sampai 3-4 kali penerbangan BBM, itu pun belum cukup,” bebernya.
Dia berharap penyedia jasa angkut dapat menyediakan pilot pengganti, supaya penyaluran BBM di 5 kecamatan di Krayan bisa kembali normal.
“Karena ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat di sana. Kasihan mereka dalam menyambut Natal dan tahun baru,” tutupnya.
Sementara itu, Sales Manager Tarakan, Pertamina, Abdilah belum bisa dikonfirmasi. Bahkan, sambungan telepon maupun pesan WhatsApp belum ditanggapi. (*)
Penulis : */Asrin
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah tayang di Korankaltara.com dengan judul: BBM Langka di Krayan, Kendaraan Makin Sepi