“Masih tetap ada (transmigasi), tapi jumlah pastinya saya lupa. Nanti akan ada penempatan lagi diantaranya penempatan warga asal Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dan tentu tetap berkolaborasi dengan transmigrasi lokal,” kata Nurdin.
Kuota atau jumlah yang terlibat dalam program transmigrasi nanti akan terseleksi atau terbatas, jumlahnya lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Paling banyak 150 KK (kepala keluarga), karena untuk kali ini program serupa juga dibagi ke beberapa daerah. Seperti Papua, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kaltim,” jelas Nurdin.
Penempatan warga transmigrasi ini menjadi salah satu upaya untuk mendukung Bulungan sebagai salah satu daerah penyangga pangan di ibu kota negara (IKN).
Seperti diketahui, Bulungan juga telah ditetapkan Kementan RI sebagai daerah penyangga pangan IKN. Selain untuk pengembangan pertanian, adanya transmigrasi juga dinilai mendorong daerah pertumbuhan ekonomi baru. “Bulungan juga ada food estate. Nah, di food estate itu sendiri sudah masuk program presiden sebagai penyangga pangan IKN. Bahkan trans kalimantan akan tembus sampai ke IKN, termasuk transmigrasi di Tanjung Buka dan Sepunggur. Ini juga dipersiapkan untuk mendukung IKN,” katanya.
Sementara Bupati Bulungan Sudjati menyambut positif adanya penempatan warga trasmigrasi ini. Apalagi sebagai pendukung pendukungan program ketahanan pangang. “Kami siap memfasilitasi, apalagi lahan transmigrasi masih luas,” kata Sudjati.
Terkait infrastrutur bagi warga transmigrasi, Sudjati menegaskan bahwa semua sudah terpenuhi walaupun dilakukan secara bertahap. Contoh di Tanjung Buka, jika dulu belum ada semenisasi. Saat ini bisa dilihat sudah disemenisasi. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di koran kaltara hari Minggu 1 November 2020 dengan judul Program Transmigrasi di Bulungan Masih Berlanjut