Diketahui, jalan itu selama ini sudah menjadi perlintasan masyarakat umum. Selain itu kendaraan milik perusahaan kelapa sawit dan CPO juga memanfaatkan jalan itu. Di lokasi nampak adanya perbaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) namun hingga kini belum juga selesai.
“Sudah berbulan-bulan badan jalan yang hancur itu dikupas, tapi belum juga diaspal atau di beton. Sekarang jadi bubur lumpur, apalagi baru habis banjir dan hujan setiap hari, hampir tidak bisa dilintasi,” kata Iwan (35) warga Kampung Muara Lawa kepada Koran Kaltim, Selasa (28/11).
Senada, dipaparkan Masriansyah (55) yang juga warga Muara Lawa. Menurutnya, lamban perbaikan oleh DPU Kaltim, sehingga itu menjadi hambatan masyarakat untuk melintasi jalan itu.
“Bukan kami yang berada di poros ini saja, tapi seluruh masyarakat yang melintas dari dan keluar Kubar, merasakan dan melihat sendiri kondisi jalan Trans Kaltim di Muara Lawa yang rusak berat itu. Kenapa Pemprov Kaltim seolah membiarkan kondisi itu,” bebernya sore kemarin.
Beda diungkapkan Alfin (32), warga Kecamatan Barong Tongkok. Dia menyebut penyebab utama kerusakan itu jalan itu bukan hanya perusahaan perkebunan sawit dengan angkutan melebihi kapasitas, tapi juga kendaraan perusahaan tambang batu bara berupa bus dan juga ratusan mobil angkutan karyawan setiap hari menggunakan jalan itu.
“Perusahaan pura-pura bodoh, padahal yang menyumbang kerusakan besar jalan Trans Kaltim adalah angkutan mereka yang melebihi kapasitas muatannya. Seharusnya Muspika Kecamatan Muara Lawa melaporkan kondisi itu kepada Pemkab Kubar dan Pemprov Kaltim,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan Camat Muara Lawa, Suhaimi belum berhasil dikonfirmasi. Media ini coba menghubungi melalui telepon selulernya berulang ulang tapi tak dijawab. Begitu juga dengan pesan melalui aplikasi juga tak mendapat respon. (imr)