Di Provinsi Kaltim, Pengangguran Terbanyak Ada di Kota Bontang
2 menit baca816 kali dibaca

Penulis: */Faishal
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kota Bontang menjadi kota yang memiliki pengangguran terbuka terbanyak di Kaltim. Tingkat pengangguran di kota industri itu mencapai 7,81 persen. Adapun pengangguran paling kecil terdapat di Penajam Paser Utara (PPU) dengan persentase 2,12.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim, Yusliando mengatakan tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2022, mengalami penurunan lebih baik dari capaian nasional. Namun capaian ini masih jadi yang tertinggi di antara provinsi lainnya di wilayah Kalimantan.
“Ada empat kabupaten dan kota yang tingkat pengangguran terbukanya masih di atas rata-rata Kaltim. Yakni Bontang, Balikpapan, Samarinda, dan Kutim,” ungkap Yusliando.
Ia menyebut tren tingkat pengangguran terbuka sejak 2018 fluktuatif dengan kecenderungan menurun. 2018 sebesar 6,41 persen, kemudian 2019 sebanyak 6,09 persen, 2020 naik menjadi 6,87 persen, 2021 sebesar 6,83 persen, dan 2022 turun menjadi 5,71 persen.
Empat daerah di Kaltim yang memiliki tingkat pengangguran terbanyak yakni Bontang sebesar 7,81 persen, disusul Balikpapan dengan 6,90 persen, Samarinda 6,78 persen, Kutim 6,48 persen, Berau 5,02 persen, Paser 4,88 persen, Kubar 4,62 persen, Kukar 4,14 persen, Mahulu 2,44 persen, dan PPU 2,12 persen.
Permasalahan utama biasanya masih menghadapi rasio antara lapangan kerja dan pencari kerja yang belum berimbang. “Termasuk kompetensi atau keahlian yang dimiliki pencari kerja tidak sesuai dengan standar kebutuhan dunia kerja,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk tren tingkat kemiskinan di Kaltim sejak 2018 bergerak fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. 2018 sebesar 6,03 persen, 2019 berada di 5,94 persen, 2020 naik menjadi 6,1 persen, 2021 sebanyak 6,54 persen, dan 2022 di angka 6,31 persen.
Kendati demikian, dikatakan Yusliando bahwa tingkat kemiskinan Kaltim per Maret 2022 cenderung meningkat dari angka nasional dan rendah dari Kalsel dan Kalteng. “Di Kaltim, tingkat kemiskinan tertinggi ada di Mahulu, 11,55 persen. Alasannya sebagai daerah baru dan punya wilayah yang sulit diakses. Itu penyebab tingginya angka kemiskinan di Mahulu,” urainya.
Kemudian, permasalahan lain adalah belum maksimalnya penjangkauan dan pemerataan program pengentasan kemiskinan yang masih terpusat pada wilayah perkotaan. Situasi ini, ujar Yusliando, memungkinkan faktor aksesibilitas akibat kondisi geografis yang relatif sulit dan pemenuhan fasilitas penunjang lainnya. Tak terkecuali jarak dengan pusat pemerintahan dan perekonomian.
Posisi kedua, ditempati Kubar dengan 10,20 persen. Lalu Paser 9,43 persen. Kutim 9,28, Kukar 7,96 persen, PPU 7,25 persen, lalu Berau 5,65 persen. Selanjutnya ada Samarinda dengan 4,85 persen, Bontang 4,54 persen, dan Balikpapan ada 2,45 persen.
Editor: Koran Kaltim










