Pantauan Koran Kaltim kejadian memanas berlangsung beberapa menit. Sempat reda karena koordinator aksi meminta anggotanya tenang. Namun kembali bentrok setelah koordinator dipukul seorang aparat sehingga memicu mahasiswa untuk membela.
Koordinator Aksi Rinto yang diamankan sejumlah petugas sampai pingsan. Bahkan Rinto yang menjabat Ketua MPM Universitas Balikpapan harus dievakuasi ke rumah sakit.Sejumlah mahasiswa lainnya juga cidera rata-rata dialami di bagian kepala.
Awaluddin mahasiswa tergabung dalam HMI menuturkan awal mula kejadian ricuh ini.”Kami baru saja mau maju beberapa langkah, tapi sudah dihalangi, kami dipukul dan ditendang dan ada 4 orang kawan kami yang sampai saat ini (kemarin) ditahan polisi,” jelas Awaluddin.
Mahasiswa dari Universitas Balikpapan dan STT Migas itu meminta rekan mereka yang ditahan segera dibebaskan. Mereka membantah membawa BBM untuk membakar miniatur keranda.
“Kami tidak membawa dan tidak tahu menahu soal BBM, karena dari awal kita hanya membawa bendera dan spanduk serta miniatur keranda saja,” tegasnya. Demo gabungan aktivis kampus menyuarakan aspirasi masyarakat atas musibah banjir kerap terjadi di Balikpapan. Mereka menuntut dan mendesak Pemkot Balikpapan mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang tidak sesuai dengan RTRW.
“Kami juga mendesak Pemkot Balikpapan memprioritaskan anggaran penanganan banjir. Kami juga minta pemerintah mempercepat pembangunan bendali dan merealisasikan program Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kalau tidak mampu maka sebaiknya mundur dari jabatan Wali Kota Balikpapan,” ungkap Awaluddin.
Kabag Ops Polres Balikpapan, Kompol Supriyanto mengatakan pengamanan sesuai prosedur. Hanya saja mahasiswa mendesak masuk ke kantor Wali Kota.
“Kantor ini objek vital, dalam aturan jika terjadi demonstrasi harus sejauh 50 sampai 100 meter dari pagar, tapi kita kasih toleransi sehingga mereka bisa masuk di halaman kantor,” jelasnya.
Supriyanto menegaskan bahwa tindakan anggotanya sudah sesuai prosedur penanganan aksi. “Kita evaluasi semua, mahasiswa yang ditahan sementara dilakukan pemeriksaan, kita selidiki. Kalau ada pemukulan yang dilakukan anggota saya tidak lihat langsung, tapi tetap dievaluasi di internal,” ujarnya. Pihaknya menemukannya BBM jenis Pertalite dalam aksi ini, sehingga hal itu tidak dibenarkan. “Berarti kan ada indikasi membakar. Itu sudah masuk ke dalam unsur percobaan pidana. Pertalite ditemukan di dalam keranda,” ungkap Supriyono.
Kepolisian tetap melanjutkan pemeriksaan Koordinator Aksi yang mendapat perawatan di rumah sakit. “Koordinator aksi kita amankan, nanti kalau sudah baik baru dilakukan pemeriksaan,” tandasnya.
Usai ricuh, aksi kembali berlangsung. 5 Mahasiswa diterima perwakilan Pemkot.”Kami nggak bisa menentukan kapan bisa memberi jawaban tuntutan. Yang pasti kami telah membentuk tim. Mahasiswa tunggu saja kabar lanjutan program penanganan banjir,” kilah Kabag Pemerintahan Kota Balikpapan, Masrani. (din)