Termasuk memungkinkan pemangku kepentingan G20 memberikan masukan penting untuk memajukan isu TBC ke dalam komunike Konferensi Tingkat Tinggi G20 mendatang dari Kepala Negara.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Indonesia mempromosikan penguatan arsitektur kesehatan global serta memastikan program TBC yang lebih tangguh di masa mendatang.
"Hanya dengan meningkatkan pendanaan, meningkatkan jaringan kolaboratif, dan kemitraan multilateral kita dapat mengembangkan diagnostik, vaksin, terapi, dan sistem surveilans TBC yang efektif dan efisien," kata Budi Gunadi Sadikin dalam rilis yang diterima Korankaltim.com, Sabtu (2/4/2022).
“Dengan upaya-upaya tersebut, kita tidak hanya akan memberikan perawatan yang paling dibutuhkan pasien dan keluarga TBC, tetapi juga, kita akan mencapai hasil yang ingin kita semua lihat. Dunia yang bebas dari TBC,” ujarnya.
Peningkatan investasi terhadap sumber daya dalam penanggulangan TBC akan menyokong upaya pemulihan kesehatan masyarakat untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Direktur Jenderal World health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Eksekutif The Global Fund Peter Sands kemudian USAID Assistant Administrator for Global Health Atul Gawande serta Vice President for Human Development dari World Bank
dan Mamta Murthi turut menjadi keynote speech untuk membuka diskusi Side Event tersebut.
“Berkaca pada penanganan COVID-19, penyelesaian pandemik dapat dilakukan dengan kerjasama dan respon cepat. Hal ini perlu dilakukan untuk penanggulangan TBC. Komitmen harus dijalankan tidak hanya secara global nasional tapi juga hingga tingkat daerah," ujar Meirinda Sebayang sebagai penyintas TBC resisten obat.
"Tantangan yang dihadapi tidak hanya menyangkut dana tapi juga sistem pengelolaan dananya perlu diperhatikan,” sambungnya yang juga Ketua Jaringan Indonesia Positif dan perwakilan komunitas dalam Dewan Stop TB Partnership.
Side event terbagi menjadi 4 sesi dengan total 29 pembicara dari berbagai organisasi dan institusi global dan nasional. Mulai dari upaya dan pendanaan untuk mengakhiri TBC yang tersedia saat ini belum memenuhi target untuk tahun 2030 hingga pendekatan alternatif dan inovatif untuk memperluas akses pendanaan untuk akhiri TBC.
Para pembicara menekankan perlunya negara-negara anggota G20 untuk membawa urgensi untuk mereplikasi pemanfaatan teknologi digital COVID-19 dalam menanggapi krisis TBC. Berinvestasi dalam TBC hemat biaya dan akan menguntungkan semua orang merupakan dasar dari strategi jaminan kesehatan universal.
Untuk diketahui, investasi penanggulangan TBC saat ini ($5,3 miliar pada 2020) masih kurang dari setengah dari $13 miliar yang diperkirakan diperlukan setiap tahun untuk mencapai target global yang ditetapkan oleh strategi END TB dan pertemuan tingkat tinggi PBB tentang TBC.
Tahun 2020, pengeluaran global untuk layanan TBC turun untuk pertama kalinya sejak 2016, menjadi US$ 5,3 miliar (turun 8,7% antara 2019 dan 2020). Jika dunia tidak memenuhi END TB secara global akan terjadi 31,8 juta kematian TBC dan kerugian $ 18,5 triliun selama periode 2020-2050.
Mengingat peran yang dimainkan negara-negara G20 dalam memimpin respons terhadap tantangan ekonomi dan kesehatan, maka momentum presidensi Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban penyakit TBC tertinggi di dunia, memimpin diskusi mengenai peningkatan pendanaan TBC dinilai strategis untuk mempertanggungjawabkan komitmen pemimpin negara G20.
Penulis: Hendra
Editor: Supiansyah