Sudah berdiri berjam-jam perut pun mulai keroncongan. Pak Presiden belum kelihatan juga. Panas terik mentari tak membuat semangat pupus.
Untung diperbolehkan bapak ibu guru pendamping, duduk dulu di samping trotoar. Kata mereka, jika nanti ada aba-aba berdiri, berdiri serempak ya.
"Beruntung aku telah sarapan. Tadi ibu di rumah memaksaku sarapan," ujar salah seorang anak berbisik pada teman lainnya.
Saat presiden datang petugas kesehatan sibuk siaga mulai ring 1 sampai 4. "Yang diobati kebanyakan anak- anak SD yang pingsan, dan petugas lapangan yang sudah berusia tua, periksa tekanan darah," ungkap Nunung mantan perawat mengenang. Ia selalu ditugaskan sejak zaman presiden Soeharto bertandang di Bumi Etam.
Beruntung ya, kita yang pernah merasakan zaman itu, meski lelah tapi hati riang dan penuh kenangan. Merasakan sensasi melambaikan bendera di tangan, sambil teriak memanggil nama sang Presiden. Lalu tetap penasaran dan nanya kepada teman yang berdiri di sebelah (dengan ekspresi bingung) "Eh, yang mana ya mobil presiden tadi, larinya kok kencang secepat kilat." (*)
(Artikel ini ditulis oleh Inni, Selasa, 24 Agustus 2021)
Editor: Desman Minang