Mencari lilin untuk penerangan pada malam hari langsung dilakukan. Alhasil, lilin laris manis bagi mereka yang tak memiliki lampu emergency saat listrik padam. “Sudah cari lilin sampai lima tempat tidak ada, habis semua,” ujar Moammar, warga Sempaja yang harus berkeliling toko dan warung untuk mencari lilin namun sudah “sold out”.
Cuaca panas sejak siang hingga malam hari menambah “derita” masyarakat yang tak punya genset untuk penerangan sekadar menyalakan kipas atau penyejuk ruangan. Emma, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Sungai Kunjang, harus “memberi angin” kedua anaknya secara manual, dengan kipas tangan. “Capek saya ngipasi anak lebih tiga jam nunggu listrik nyala,” ujar Emma yang memilih berdiam di rumah karena ingin jalan tapi suasana kota ramai.
Memang sejak pukul 19.00 WITA atau usai salat Maghrib masyarakat Samarinda yang sudah mendapat informasi listrik baru normal dalam hitungan empat, delapan hingga 10 jam alias secara bertahap, memilih keluar rumah dengan berbagai tujuan.
Hotel jadi pilihan untuk menginap satu malam, namun bagi Widya, sudah terlambat untuk booking karena ternyata sudah penuh sejak sore hari. “Saya cari hotel atau penginapan di Samarinda tapi penuh semua, ternyata saya terlambat booking, sudah penuh sejak sore karena banyak yang ngungsi ke hotel dan penginapan,” ujar Widya yang tinggal di kawasan Jalan Wahid Hasyim.
Mal dan kuliner atau tempat makan jadi sasaran lain masyarakat saat menunggu listrik nyala. “Mal penuh mulai dari Big Mall, SCP (Samarinda Central Plaza), Mal Lembuswana sampai Samarinda Square. Masyarakat datang karena menghindari listrik padam di rumah,”: sebut Fiqri yang rumahnya di Jalan Suryanata.
Irma Damayanti bersama keluarganya memilih mencari tempat makan di wilayah kota sembari menunggu listrik nyala. Sejak pukul 19.00 WITA, Irma sudah jalan dan baru kembali pukul 21.00 WITA. “Tapi listrik belum nyala juga, jam sepuluh baru normal,”: ujar Irma.
Yang menarik, sebagian warga ada yang memilih rumah ibadah terutama musala atau masjid untuk “berteduh” dari padamnya listrik. Mereka berkumpul di tempat itu untuk sekadar men-charger telepon genggam yang kehabisan daya sejak padamnya listrik. “Lumayan sambil nunggu listrik nyala kami disini dulu, terang dan ada listrik untuk charger handphone,” kata Endri yang sedang duduk bersama temannya di masjid Jalan Wolter Mongonsidi sembari memegang telepon genggam yang tersambung ke listrik di area masjid.
Diketahui, blackout alias hilangnya aliran listrik dalam waktu beberapa jam, terjadi di hampir semua daerah di Benua Etam, mulai dari Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Paser. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah juga terdampak dengan matinya listrik di sebagian daerah pada dua provinsi tersebut.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK).di Balikpapan sudah mengeluarkan pernyataan resmi terkait blackout itu meski belum menjelaskan secara pasti penyebabnya. PLN menyalakan listrik secara bertahap di beberapa kawasan di Kota Tepian mulai pukul 20.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA. Tanda pagar (taggar) #Kaltimblackout pun sempat jadi trending di Twitter sejak sore hingga malam tadi.
Editor: Aspian Nur