Almarhum, akan dimakamkan di Kompleks Mahabbah Martapura.
Sebagai informasi, Pangeran Jumri adalah ayah dari Sultan Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah. Sultan Banjar di era milenium yang dibangkitkan secara resmi pada tanggal 12 Desember 2010. Mengutip penjelasan tentang sejarah Kesultanan Banjar yang ditulis oleh Datu Cendikia Hikmadiraja Ahmad Barjie B, yang dimuat di laman Kesultananbanjar.id, di antara Sultan Banjar yaitu Sultan Sulaiman memerintah Kesultanan Banjar antara tahun 1801-1825, dan setelah wafat beliau bermakam di Karang Intan Kabupaten Banjar sekarang. Setelah mangkat beliau digantikan oleh Sultan Adam (1825-1857), selanjutnya digantikan oleh Sultan Tamjidillah II yang diangkat oleh Belanda, karena Raja Muda (Pangeran) Abdurrahman bin Sultan Adam wafat lebih dahulu. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang diwasiatkan oleh Sultan Adam untuk menjadi Sultan ditolak oleh Belanda, hal mana kemudian menjadi salah satu pemicu pecahnya Perang Banjar.
Selama hidupnya Sultan Sulaiman pernah mengawini lima orang istri, yaitu Nyai Ratna atau Ratu Intan Sari berkedudukan sebagai permaisuri, kemudian Nyai Cina, Nyai Argi, Nyai Unangan dan Nyai Kumala Sari. Dari seluruh istri tersebut melahirkan 18 orang anak, beberapa di antaranya anak lelaki (pengeran), terdiri dari Pangeran (selanjutnya menjadi Sultan Adam), Pangeran Husin, Pangeran Perbatasari, Pangeran Musa, Pangeran Ahmad, Pangeran Hasan, Pangeran Jamain, Pangeran Tahmid dan Pangeran Singosari.
Menurut Drs. H. Asli Noor Arief, ketika pecah Perang Banjar, keluarga Kesultanan Banjar terpencar di mana-mana. Ada yang dibuang oleh penjajah Belanda dan ada pula yang berkelana di beberapa wilayah di Kalimantan (Selatan, Tengah dan Timur), dan bersama pejuang dan rakyat pada umumnya terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pasukan Pangeran Antasari yang terdesak di Banjarmasin dan Martapura memindahkan markasnya ke Puruk Cahu Kalteng. Sebelum ke sana beliau bermarkas di kawasan Tabalong.
Di sini Pangeran Antasari mencari-cari keturunan atau zuriyat Kesultanan Banjar, lalu bertemu dengan Pangeran H Abubakar. Pangeran Abubakar adalah anak dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman. Beliau seorang ulama dan ditokohkan oleh masyarakat Tabalong saat itu. Kini makamnya berada di Marindi Tabalong dan sering diziarahi orang. Makam ini telah dipugar oleh Sultan Khairul Saleh.
Pangeran Abubakar memiliki anak bernama Gusti Umar, dan Gusti Umar memiliki anak bernama Gusti Jumberi (kini Pangeran Jumri). Gusti Jumberi adalah ayah dari Pangeran (kini Sultan) Banjar H Khairul Saleh. Dengan melihat garis keturunan itu maka dapat dikatakan bahwa Sultan Khairul Saleh adalah trah Sultan Sulaiman. Jika diurut ke belakang lagi, maka Sultan Khairul Saleh adalah generasi ke-15 dari Sultan Suriansyah. Dari keseluruhan Sultan Banjar, Sultan Khairul Saleh merupakan Sultan Banjar ke-23, sedangkan yang terakhir (22) adalah Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang tewas di akhir Perang Banjar tahun 1905.
Sebagai trah Sultan Sulaiman, Sultan Khairul Saleh juga memiliki hubungan genealogis dengan Pangeran Antasari, sebab ibu Pangeran Antasari yang bernama Gusti Khadijah adalah putri Sultan Sulaiman. Gusti Khadijah bersuamikan Pangeran Masuhud, putra dari Pangeran Amir. Dengan adanya perkawinan antara Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman dengan Pangeran Masuhud bin Pangeran Amir, maka ketegangan politik yang sempat mewarnai internal Kesultanan Banjar menjadi cair kembali.[]
Editor : Rusdi
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber