Jika dibandingkan dengan nilai indeks nasional,nilai indeks Kaltim relatif lebih tinggi pada domain pendidikan serta kesehatan dan kesejahteraan, tetapi sedikit lebih rendah pada domain lapangan dan kesempatan kerja.
Pada domain pendidikan, capaian APK sekolah menengah Kaltim, yaitu sebesar 94,35 perse pada 2018, menempati peringkat kedua tertinggi secara nasional. Begitu pula halnya dengan APK perguruan tinggi (35,64 persen), nilai indikator ini berada di atas angka nasional (30,19 persen).
Pada domain kesehatan dan kesejahteraan, angka pemuda korban kejahatan (0,93 persen) dan angka kehamilan remaja (8 persen) relatif rendah. Bahkan, angka kehamilan remaja Provinsi Kalimantan Timur menempati peringkat keempat terendah secara nasional. Namun, meski angka pemuda korban kejahatan dan kehamilan remaja rendah, tren kedua indikator tersebut meningkat sehingga keduanya menjadi tantangan bagi Kaltim.
Tantangan yang lain terdapat pada domain lapangan dan kesempatan kerja. Kaltim perlu memberikan perhatian khusus pada domain
ini karena nilai indeksnya paling rendah di antara semua domain. Salah satu tantangan pada domain ini adalah tingkat pengangguran pemuda yang relatif tinggi (15,21 persen). Meskipun trennya menurun, tingkat pengangguran pemuda di provinsi ini masih lebih tinggi daripada angka nasional (13,47 persen). Tantangan berikutnya terdapat pada domain partisipasi dan kepemimpinan, yakni turunnya tingkat partisipasi pemuda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dari 77,25 persen menjadi 70,55 persen. Penurunan ini menyebabkan Kaltim berada pada peringkat kelima terendah untuk indikator partisipasi pemuda
dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sementara itu, tantangan pada domain gender dan diskriminasi adalah angka perkawinan usia anak yang masih cukup tinggi (11,54 persen) dan sedikit lebih tinggi dari angka nasional.
Untuk diketahui, Penyusunan IPP mengacu pada tiga lapisan domain pembangunan pemuda, yakni pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui tiga lapisan domain ini, IPP menangkap aspek lintas bidang dari pembangunan pemuda dan mengakomodasi peran pemuda sebagai objek dan subjek pembangunan. Dalam kerangka penyusunan IPP, aspek-aspek pembangunan pemuda tersebut dikelompokkan ke dalam 5 domain dengan 15 indikator penyusunnya.
Kelima domain tersebut adalah (i) domain pendidikan, (ii) domain kesehatan dan kesejahteraan, (iii) domain lapangan dan kesempatan kerja, (iv) domain partisipasi dan kepemimpinan, serta (v) domain gender dan diskriminasi.
Dalam periode 2015–2018, setiap domain pembentuk IPP memiliki capaian yang beragam. Hal ini menandakan bahwa setiap domain pembangunan pemuda belum terbangun secara merata. Keseluruhan domain ini seharusnya terbangun secara simultan agar dapat dihasilkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing sebagai salah satu target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.
Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dalam sambutannya menyebut, IPP telah dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan pemuda pada RPJMN 2020-2024.
IPP akan menjadi dasar untuk menentukan langkah-langkah kebijakan serta rumusan strategi
pembangunan pemuda serta acuan dalam rangka koordinasi lintas sektor penyelenggaraan pelayanan kepemudaan.[]
Penulis/editor : Rusdi