Karena hingga saat ini, tak banyak pembangunan yang mereka rasakan. Bahkan untuk mencapai wilayah itu saja masih mengandalkan transportasi air melintasi sungai Mahakam.
“LSM Lasan Tuyan memperjuangkan masyarakat perbatasan negara, khususnya di Kecamatan Long Apari, Mahulu. Yang diharapkan masyarakat di Long Apari adalah agar segera ditingkatkan akses darat yang sudah dibuka oleh TNI beberapa tahun lalu,” tegas Lidjo Kaya yang juga Wakil Ketua Komisi II DPRD Mahulu ini didampingi Komunitas Perbatasan 17 saat memasang spanduk dan baliho merah putih di kawasan Simpang Ombau, Kecamatan Barong Tongkok, Sendawar.
Warga perbatasan di Long Apari tak berharap banyak. Mereka hanya menginginkan agar akses darat menuju Ibukota Mahulu, Ujong Bilang segera dibuka. Begitu juga dengan akses Mahulu-Kubar.
“Sekarang ini warga masih menggunakan transportasi sungai yang biayanya sangat mahal. Sembako tidak bisa sampai ibukota kecamatan, harus antre pakai kapal kecil, dengan biaya tambahan membebani masyarakat. Yang menyedihkan saat musim kemarau, sembako mahal, bahkan langka,” ungkap Lidjo Kaya Menjelang kemerdekaan yang ke-72 tahun, semangat warga di perbatasan tak kalah dengan warga perkotaan. Rasa nasionalisme warga cukup besar kendati tinggal di wilayah terpencil.
“Masyarakat mengaku bangga dengan Indonesia di bawah panji bendera merah putih dan Pancasila. Mereka juga mengakui sudah bisa menikmati hasil pembangunan dengan pemekaran Kabupaten Mahulu,” ujarnya.
“Terima kasih kepada pemerintah yang sudah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Semangat merah putih sangat tinggi di perbatasan, masyarakat merasa pembangunan sudah mulai menjangkau perbatasan. Warga Long Apari berharap Presiden Ri Joko Widodo merealisasikan janji, membuka akses jalan tembus hingga ke Ibukota Mahulu, Ujoh Bilang,” harapnya. (imr)