Delapan Bulan Pandemi: Semangat Pasien dan Keinginan Masyarakat untuk Beraktivitas Normal
2 menit baca268 kali dibaca

KORANKALTIM.COM - Pandemi Covid-19 di Kaltim sudah berjalan hampir delapan bulan. Hingga Rabu (11/11) kasus Covid-19 sudah menyentuh angka 16.149.
Sejumlah kebijakan pun akhirnya diambil dan bermuara pada pembatasan aktivitas sosial masyarakat. Jalan raya nampak lengang, karena mulai dari aktivitas sekolah, hingga perkantoran dialihkan ke rumah.
“Kadang ngeri menyaksikan jalanan sepi, toko-toko banyak yang tutup. Seperti mau akhir zaman,” ujar Nurul, pekerja swasta yang bekerja di bidang kecantikan.
Namun lambat laun, ia mengaku bahwa dirinya sudah berada dalam tahap bosan. Pasalnya kegiatan selama ini pun dilakukan melalui daring, dan banyak tempat-tempat umum yang ditutup.
“Awalnya jelas waspada, bahkan sempat tidak mau terima tamu. Tapi lama-lama bosan,semua serba di rumah, pergi ke mana-mana juga terbatas,” tuturnya.
Kebosanan dan rasa takut yang dirasakan masyarakat Samarinda, mungkin tidak sebanding dengan was-was yang harus dirasakan penderita Covid-19, Denny Saputra.
Denny Saputra yang merupakan salah satu jurnalis di Samarinda, pertama kali mengetahui dirinya positif Covid-19 saat peresmian Mobil PCR milik Pemkot Samarinda.
“Kami para wartawan diminta untuk menjajal alat tersebut, sampai ternyata saya yang positif,” selorohnya.
Meski santai, Denny pun tak mau mengorbankan keluarga besarnya dan langsung pindah rumah untuk sementara waktu agar bisa melakukan isolasi mandiri. Saat itu dijelaskannya bahwa tak ada gejala serius yang dirasakannya, selain demam dan flu seperti pada umumnya.
Selama menjalani isolasi mandiri, Denny dan istri mengaku tak berani keluar dari kediamannya, kecuali untuk berjemur. Syukurnya orang di sekitar sangat mendukung dengan memberikan berbagai bantuan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, hingga urusan-urusan yang terbengkalai.
“Takut itu pasti, was-was tidak tenang. Cuma memang pikiran harus dijaga supaya tetap sehat. Selain itu dukungan orang di sekitar juga sangat penting,” sambungnya.
Pasien lain yang terkonfirmasi positif Covid-19, E Murtianingsih menceritakan bahwa dirinya sempat membuat geger warga di sekitar kediamannya. Pasalnya ia sempat dijemput petugas dengan APD lengkap saat menjalankan isolasi mandiri di kediamannya.
“Saat isolasi saya sempat drop dan merasakan sesak. Jadi dijemput petugas dengan APD. Jadi pusat perhatian lah,” beber Murtianingsih.
Ia pun memaklumi hal tersebut terjadi lantaran hal-hal seperti ini jarang terlihat, dan mungkin baru pertama di sekitar tempat tinggalnya. Namun lepas dari itu semua, selama menjalani masa perawatan ia mengaku mendapatkan banyak perhatian dan doa dari rekan-rekan terdekatnya.
“Alhamdulillah, saya pikir akan dijauhi. Tapi ternyata banyak dukungan, dan itu sangat membantu,” tandasnya.
Penulis: Permata S Rahayu
Editor: Supiansyah










