Kata dia, keputusan dukungan memang ada di tingkat pusat, namun perlu diingat bahwa PDIP memiliki pengalaman di Pilkada pada beberapa waktu lalu dengan tidak mengarahkan dukungan kepada siapapun.
"Jadi kita lihat saja, kan yang menentukan tetap dari DPP," ungkapnya.
PDIP sebelumnya mengusulkan pasangan Erwin Izharuddin - Apri Gunawan. Namun, belum terbit SK dari pusat, pasangan politisi muda itu bercerai. Apri memilih mundur. Menurut Safaruddin PDIP tak mengusulkan lagi kandidat pengganti keduanya.
Di Kota Samarinda terdapat dua bapaslon yang akan mendaftar melalui jalur partai politik. Mereka adalah Andi Harun-Rusmadi Wongso dan Muhammad Barkati- M Darlis Pattalongi.
Andi Harun-Rusmadi Wongso mengantongi 23 kursi, terdiri dari Gerindra delapan kursi, PKS lima kursi, PPP dua kursi, PKB tiga kursi, Hanura satu kursi, dan Nasdem empat kursi.
Sementara Barkati-Darlis disokong tiga partai politik dengan total 14 kursi, meliputi PAN empat kursi, Demokrat lima kursi, dan Golkar yang dikabarkan baru saja bergabung dengan lima kursi di parlemen.
Pengamat Politik Universitas Mulawarman, Budiman mengatakan PDIP akan lebih bebas bersikap kritis pada masa pemerintahan selanjutnya bila tak mendukung calon tertentu.
Namun, parpol tanpa dukungan di pilkada juga bisa menimbulkan stigma negatif. "Kalau melihat dari fungsi parpol sebagai seleksi kepemimpinan dalam konteks pilkada maka PDIP gagal total," ucapnya.
Apalagi, PDIP di Kota Samarinda memiliki delapan kursi, dan juga sebagai pemenang pemilu, maka sangat disayangkan bila partai besutan Megawati Soekarnoputri itu absen dalam kontestasi Pilkada Samarinda.
Penulis: Faishal
Editor: Supiansyah