Setelah satu periode bekerja sama membangun Bontang, di Pilkada tahun ini, keduanya justru akan menjadi rival.
Yang mencengangkan, masing-masing dari mereka, justru menggandeng wajah-wajah lama, yang juga memiliki cerita politik di tahun 2015 silam. Tahun di mana Neni dan Basri memulai perjuangannya bersama.
Mulai dari Neni Moerniaeni. Di Pilkada 2020 ini, Wali kota Bontang, yang akrab disapa Bunda ini, memutuskan untuk menggandeng Joni Muslim, Ketua DPD Nasdem Bontang.
Diakui Neni, alasan dirinya memilih pengusaha itu karena adanya kemistri yang ia sebut telah terbangun sejak lama. “Dulu, saya yang lamar Pak Joni, sekarang Pak Joni yang melamar saya,” kata Bunda, saat ditemui di salah satu kegiatannya, belum lama ini.
Joni memang memiliki torehan sejarah di pilkada lalu. Ia sebenarnya merupakan pasangan Neni di 2015 silam, sebelum akhirnya Neni menggandeng Basri Rase untuk maju di jalur independen.
Kala itu, nama Joni dan Neni Moerniaeni tak terpisahkan. Keduanya bahkan sudah melakukan upaya-upaya pengenalan pasangan kepada publik, melalui publikasi media hingga konvensional. Namun rupanya, Joni lebih memilih bisnisnya, ketimbang melanjutkan perjuangannya bersama Neni.
Ditinggal calon pasangannya, Neni kemudian menggandeng Basri Rase yang saat itu memiliki elektabilitas cukup tinggi. Keduanya pun akhirnya terpilih mengalahkan Adi Darma–Isro Umarghani yang didukung sembilan partai politik.
Perolehan 44.300 suara cukup mengantarkan NeBas ke kursi Bontang 1 dan 2. Euforia kemenangan ini bahkan diklaim akan dibawa sampai pilkada akan datang.
Namun rencana itu sepertinya akan buyar. Beberapa waktu lalu, Basri Rase bersama rombongan PKB mengambil formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota dari PDI-P.
Dalam wawancara bersama awak media, Basri pun dengan tegas akan pisah dari Neni. Tak ada lagi NeBas jilid II. Kata Basri, instruksi partai yang mengharuskan dia bertarung di Pilkada 2020. “Sembilan puluh sembilan persen saya tidak bersama lagi,” katanya.
Kabar Basri akan menantang Neni di Pilkada sebenarnya bukan isu baru. Basri beberapa kali memberi sinyal jika dia akan ‘pisah’ dari Neni. Kasak–kusuk mengenai tak harmonisnya hubungan Neni dan Basri dalam menjalankan roda pemerintahan disebut–sebut menjadi alasan Basri ogah melanjutkan NeBas jilid II. Tapi itu dibantah pria yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Bontang tersebut.
Dia masih kukuh jika pertarungan ini murni arahan partai. Apalagi, perolehan suara PKB pada Pileg cukup mentereng. Ditambah jatah kursi wakil ketua DPRD milik PKB. Tinggal mencari satu dua partai untuk memuluskan ke arena pertarungan. Maklum, tiga kursi PKB belum cukup menjadi tiket Pilkada. Butuh tambahan dua kursi.
Basri yakin, dia akan dapat teman koalisi. Salah satunya adalah PDI-P. Apalagi, saat ini PDI-P adalah partai yang juga berada di satu naungan fraksi bersama PKB di parlemen.
“Saya sih prinsipnya optimis saja. Kami saat ini terus melakukan pendekatan dengan semua partai,” ujarnya meyakinkan.
Basri pun mengaku jika rencana dia bertarung di Pilkada juga mengacu pada hasil survei elektabilitas yang diklaimnya menunjukkan posisinya teratas dibandingkan dengan bakal calon lainnya. “Hasil itu sudah ditunjukkan ke saya,” ucapnya
Namun, rupanya Basri justru berbalik arah. Ia justru menggandeng mantan rival politiknya, Adi Darma, tokoh politik senior di Kota Taman.
Kali ini mereka menyatukan kekuatan. Masa lalu hanya tinggal cerita. Keduanya kini bersama dalam satu visi dengan tagline BERADAB: Bersama Adi Basri, dengan formasi Adi Darma sebagai bakal calon wali kota dan Basri jadi wakilnya.
“Saya dengan Pak Adi bahkan sudah berbagi tugas, ketika kami menjabat nanti, Pak Adi fokus kerja bagian ini, saya bagian itu. Kami optimis masih memiliki kans yang besar,” kata Basri, beberapa waktu lalu.
Hampir pasti Pilkada 2020 masih akan menjadi pertarungan head to head antara kedua pasangan itu. Wacana poros ketiga pun semakin jauh dari telinga masyarakat Bontang.
Penulis: */Romi
Editor: Supiansyah
* Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 18 Juni 2020