Biasanya sampel itu dikirim untuk diperiksa oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya atau pun Pusat Penilitan dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Jakarta.
“Tentunya akan dilaporkan ke pemerintah provinsi untuk diteruskan ke pemerintah pusat. Nanti Kementerian Kesehatan yang memutuskan secara resmi, kapan pindah pemeriksaan sampel,” kata Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi usai meninjau alat PCR di RSPB, Rabu (6/5).
Bahkan PCR di RSPB itu bisa dimanfaatkan daerah lain di Kalimantan Timur untuk melakukan uji swab atas sampel pasien yang terindikasi terpapar Covid-19 karena lebih cepat dan efisien. “Tentunya ketika RSPB sudah siap dan Kementerian Kesehatan memberikan rekomendasi,” ucapnya.
Sementara Direktur RSPB dr. Syamsul Bahri menyebut PCR yang diterima sama persis dengan yang dioperasikan di Amerika Serikat. Sehingga membutuhkan tenaga ahli.
“Belum bisa dipakai karena tim kami harus dilatih dulu oleh para ahli hingga benar-benar bisa menjalankan sesuai prosedur standar yang berlaku,” kata Syamsul Bahri.
Dirinya menyebut tim medis RSPB akan menjalani masa pelatihan selama 4 hari sebelum menggunakan sampel virus Corona yang sesungguhnya. Kemudian hasil uji swab akan dilakukan perbandingan.
“Jadi sampel yang sama kami uji dan kami kirimkan juga ke Puslitbangkes. Hasilnya nanti kami bandingkan. Kalau ternyata sama, berarti tim kami sudah mampu menjalankan tes swab pakai PCR,” ujarnya.
PCR yang diterima RSPB sebanyak 1 unit dengan perangkat pendukung lainnya. Mampu untuk memeriksa 385 sampel walau lebih efektif bila hanya untuk 45 sampel dalam satu kali proses.
Mengingat ada proses ekstraksi yang dilakukan secara manual dalam ruangan khusus. Sementara jumlah tim ahli juga terbatas.
“Tim yang siap dilatih baru 5 orang. Kami sih inginnya 8 orang supaya tidak terlalu lelah dan kesehatannya juga terjaga. Mereka nanti bisa bertugas bergantian,” harapnya.
Sedangkan PCR manual dengan otomatis cukup berbeda terutama dari segi kecepatan mengetahui uji sampel swab. RSPB pun masih membutuhkan alat ekstraktor.
“Jika alat ini datang, ektraksi pemisahan virus bisa dilakukan sebanyak 96 sampel untuk satu jam, sehingga bisa memeroleh 385 sampel yang berhasil diteliti dalam 6 jam,” sebutnya.
Sebagai informasi tambahan, jumlah pasien positif Covid-19 mengalami tambahan 1 orang sehingga menjadi 36 pasien. Pasien itu seorang pria 29 tahun dengan profesi sebagai Anak Buah Kapal atau ABK dan telah dirawat di RSPB.
Penulis: */Hendra
Editor: Supiansyah