“Sejak 2000, saat ini yang paling berat. Saya biasa habis sampai empat termos es penuh, kali ini habis satu termos saja sudah syukur. Pembeli sepi sekali, kira-kira setengahnya lah yang berkurang,” ujar Wati, Selasa (21/2/2020) kemarin.
Usahanya dibantu dua anaknya yang satu diantaranya yaitu si bungsu saat ini menempuh pendidikan S2 di Universitas Soedirman, Purwokerto. Meskipun, kondisi finansialnya tidak menentu dan hanya menggantungnya hidup dari pendapatan utama Rp500 ribu sebulan, dirinya bersyukur karena anaknya bisa mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan hingga S2.
“Awalnya memang sulit menyesuaikan, soalnya pendapatan dan pengeluaran modal belanja bahan pokok pas-pasan bahkan saya bisa sampai harus menomboki karena uang belanjanya kurang. Tetapi, apabila saya tidak berjualan, keluarga mau dikasih makan apa? Makanya saya tidak boleh diam saja, meski sekarang pendapatan bisa tidak ada sama sekali,” jelas Wati.
Di lain tempat, Erna yang juga merupakan kepala keluarga menggantungkan hidup dari berjualan lemang dan telur asin di pinggir Jl Imam Bonjol. Tahun ini adalah tahun ke-10 dirinya berprofesi sebagai penjual lemang sekaligus sebagai generasi keempat yang meneruskan usaha tersebut.
“Saya sih tawakal saja. Niat mencari rezeki juga sama-sama bagian dari ibadah, ditambah saya juga memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keempat anak angkat saya,” tutur Erna.
Erna mengungkapkan dirinya memiliki seorang anak kandung yang sudah berkeluarga dan saat ini tinggal bersama empat anak angkat yang sebelumnya merupakan yatim. Sudah merupakan tanggung jawabnya untuk memastikan segala kebutuhan dasar anak-anaknya terpenuhi. Apalagi di tengah situasi sekarang yang sempat membuat penjualan lemang menurun, dari 15 bambu atau 5 Kg menjadi 10 bambu atau 3 kg. Hal ini semakin mencambuk dirinya untuk berjualan lebih giat dan lebih awal.
Di lain sisi, sebagian perempuan lainnya dengan alasan kemanusiaan tetap melangsungkan kegiatannya di luar rumah demi membantu banyak orang yang terdampak langsung oleh Covid-19. Perempuan tersebut ialah Dina Wardana.
Dina Wardana yang merupakan warga dari Keluarahan Makroman menyediakan lapangan kerja menjahit ribuan masker untuk para perempuan yang tidak memiliki suami dan berdiri sebagai kepala keluarga di rumah mereka. Dirinya menuturkan tingginya angka perkawinan muda juga sejalan dengan angka perceraian dini.
Dina yang juga seorang penjahit pun merekrut beberapa janda di sekitar rumahnya untuk bekerja di rumahnya karena permintaan masker yang tinggi membuatnya perlu memperkerjakan beberapa karyawan untuk membantunya menyediakan permintaan masker yang dipesan oleh beberapa pemilik olshop di Samarinda.
“Alhamdulillah permintaan masker meningkat, jadi sekalian saja saya memberdayakan teman-teman lainnya agar sama-sama bisa bertahan menghadapi krisis ekonomi Covid-19 yang tidak tahu sampai kapan akan berlangsung. Intinya sih memastikan teman-teman penjahit bisa mendapatkan uang untuk makan,” sebut Dina. (*)
Penulis: */Meiliyana
Editor: Aspian Nur
* Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 22 April 2020