Kamis, 16 Maret 2020 malam, menjadi hari paling melegakan bagi Edi dan juga Tim Gugus Tugas Penanganan dan Penanggulangan Covid-19 Kutai Kartanegara. Malia M Lenokoly (37), pasien positif kedua sekaligus terakhir di daerah itu dinyatakan sembuh. Kutai Kartanegara seketika zero Covid-19.
Namun, Edi menyadari, perjuangan belum usai. Serangan virus itu masih memungkinkan menjangkiti warga Kutai Kartanegara. Apalagi masih terdapat empat Pasien Dalam Pengawasan, 160 Orang Dalam Pemantauan, dan satu berstatus probable. (Data Dinkes per 20 April).
Atas pertimbangan itu pula, status Tanggap Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Covid-19 tetap diberlakukan. Air bersih untuk golongan tertentu masih digratiskan dan bantuan dampak ekonomi dikucurkan. Tak kurang dari Rp129 miliar dialokasikan untuk penanganan pandemi Covid-19. Dana itu merupakan hasil realokasi APBD 2020.
Menurut Edi, anggaran sebesar Rp129 miliar itu dialokasikan untuk kebutuhan dua bulan ke depan. Rinciannya, untuk penanganan kesehatan Rp93 miliar, penanganan dampak ekonomi Rp22 miliar, dan penyediaan jaringan pengamanan sosial Rp13 miliar.
Meski berharap pandemi ini cepat berlalu, kemungkinan terburuk tetap dipikirkan. Bila Covid-19 terus-terusan terjadi, anggaran mesti ditambah. Edi mengatakan itu memang menjadi prioritas di kepala-nya. “Untuk kepentingan masyarakat, kebutuhan harus mengikuti kondisi yang diperlukan,” katanya.
Edi meyakinkan Pemkab Kukar siap menggelontorkan berapapun dana yang dibutuhkan untuk melindungi masyarakatnya dari ancaman Covid-19. Apalagi urusan itu tak susah. Presiden hingga menteri telah memberikan restu sepanjang untuk penanganan Covid-19.
Kini, Pemkab Kutai Kartanegara sedang menyalurkan bantuan sembako ke desa dan kelurahan di Kukar. Bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Penulis: */Supiansyah
*Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak tanggal 21 April 2020