Andi Harun yakin, jika lubang-lubang tersebut dimanfaatkan sebagai tampungan air, maka dalam waktu satu tahun banjir dapat dikurangi. "Ini bisa mengurangi banjir Samarinda, dari semua kecamatan yang ada. Akan efisien, karena hampir semua kecamatan ada void. Kita punya lubang bekas galian tambang. Ini akan mengefisienkan anggaran, kita tidak perlu lagi mengalokasikan anggaran puluhan bahkan ratusan miliar untuk penggalian lubang pengendali banjir," bebernya.
Pihaknya sudah memetakan titik sebaran eks lubang tambang yang ada di Samarinda.
Di sisi utara, timur dan barat Samarinda terdapat beberapa eks lubang tambang yang bisa dimanfaatkan untuk menampung lintasan banjir. Dengan begitu lintasan air bisa berkurang karena ada penampung berupa polder. Keberadaan lubang bekas tambang yang ditinggal begitu saja tak perlu dipermasalahkan lagi. "Enggak perlu saling menyalahkan. Ada baiknya kita cari solusi terbaik buat atasi banjir," jelasnya.
Sementara itu, pemanfaatan lubang bekas galian tambang batu bara jadi polder, juga sudah ada diatur oleh pemerintah dan payung hukum dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Selain itu, cara ini dinilai lebih efisien dan efektif karena bisa menekan biaya. "Perhapi Kaltim merasa perlu mengambil peran dalam mendorong upaya pengendalian banjir. Karena persoalan tambang dianggap sebagai penyumbang banjir," ungkapnya.
Sementara itu, Dewan Pakar Perhapi Prof Rudi Sayoga Gautama menjelaskan, pemanfaatan lubang bekas tambang bukan hal baru. Di dunia, ada Jerman dengan Kota Leipzig yang memiliki ribuan lubang tambang, yang akhirnya juga mampu memanfaatkan lubang tersebut. "Berdasarkan pengalaman saya ke tambang-tambang, bahkan kebanyakan lubang tambang itu punya tampungan yang lebih besar, bahkan lebih dalam ketimbang Waduk Lempake itu," sebut Rudi.
Namun demikian, jika memang hendak memanfaatkan lubang bekas galian tambang, perlu dipastikan kandungan air pada lubang tersebut sudah tidak lagi mengandung zat beracun. (*)
Penulis: */Rusdi
Editor: Aspian Nur