Haji Mashud Achmad, Kepala TK Arafah Tenggarong tak kuasa menahan haru bila mengingat peristiwa itu. Salah satu muridnya turut menjadi korban. Untuk mengenangnya, setiap tahun pihak sekolah membacakan doa arwah.
“Kami menggelar doa setiap 1 Muharram sesuai peristiwa itu terjadi menurut kalender Islam,” katanya saat berbincang dengan Koran Kaltim.
Tahun ini, peringatan mengenang delapan tahun runtuhanya Jembatan Kartanegara telah dilakukan di Madjid Agung Sultan Sulaiman Tenggarong.
“Biasanya pada 26 November juga dilakukan prosesi tabur bunga,” ujarnya.
Haji Mashud berharap pemerintah daerah tak melupakan kejadian itu. Ia menyarankan agar Pemkab Kukar membangun monumen para korban di dekat jembatan.
“Seperti musibah tsunami di Aceh atau tragedi bom Bali yang dibangun monumen untuk mengenang para korban, sehingga wisatawan yang datang ke Tenggarong mengingat peristiwa tersebut. Kalau perlu kendaraan para korban yang tersimpan di Polres Kukar ditampilkan di monumen itu,” ujarnya.
Monumen itu, kata Mashud, tak bermaksud membuat membuat sedih keluarga para korban. “Setidaknya dengan adanya monumen itu, kita bersama bisa mengingat dan sama-sama peduli bahwa kejadian besar pernah terjadi di Tenggarong dan orang yang datang bisa mendoakan,” jelasnya.
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Saparuddin Pabonglean setuju dengan usulan dibangunnya monumen untuk mengenang para korban Jembatan Kartanegara. Kehadiran monumen bisa menjadi renungan bagi pemerintah dan masyarakat.
“Selain untuk peringatan kita bersama turut mendoakan korban setiap tahunnya, juga bisa menambah wisatawan serta evaluasi dan sorotan serius kepada pemerintah jika dalam membangun sebuah infrastruktur harus benar-benar dipertanggungjawabkan dan bertujuan untuk kemaslahatan umat,” tegasnya.
Saparuddin juga berharap agar pemerintah daerah peduli terhadap keluarga para korban. Seperti menuntaskan pendidikan bagi anak korban. “Ini merupakan peristiwa yang menyisakan kesedihan mendalam bagi kita semua,” ujarnya.
Penulis: */Heriansyah
Editor: M. Huldi