Sektor ekstraksi dan perkebunan yang ada tersebut, kata Tutuk, masih belum bernilai tambah tinggi. Kaltim masih berfokus pada komoditas mentah.
Dengan dipilih menjadi IKN, diharapkan dampak dari pembangunan infrastruktur bakal mempermudah masuknya investasi.
“Kita harus dorong hilirisasi. Supaya bernilai tambah lebih tinggi. Tapi apa mau investor datang dengan sendirinya. Harus diciptakan iklim invetasi yang kondusif, kuncinya di negara maju buat kebijakan yang mendukung iklim investasi yang kondusif, insentif bagi investor berupa kemudahan perizinan dan masyarakatnya juga harus ramah,” bebernya.
Kaltim sendiri, diakui Tutuk, menghadapi problem utama yakni infrastruktur yang terbilang minim. “Kalau pemerintah memberikan perhatian lebih kepada Kaltim, maka itu akan membuat ekonomi menjadi lebih efisien. Lebih produktif dan efisiensi naik,” tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan Kaltim akan menggeser transformasi ekonomi dari sektor pertambangan. Mengingat industri Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui itu akan habis di masa mendatang.
“Mau atau tidak mau dilakukan pergeseran, dia (pertambangan) akan tergeser secara alamiah,” sebutnya.
Pemerintah daerah telah mempersiapkan segala hal untuk menghadapi pergeseran pertambangan terutama ke batu bara ke sektor industri yang lain seperti produksi hilir produk tambang hingga manufaktur.
“Hilirisasi hasil perkebunan seperti sawit juga dilakukan dan potensi lainnya,” ujarnya. (*)
Penulis : */Rusdi