Ditemui di sela penutupan TMMD, putri asli Kaltim ini mengaku sangat bangga dan terharu mendapatkan kesempatan untuk melakukan terjun payung di Samarinda. Apalagi dalam aksi kemarin, ia juga disaksikan oleh neneknya. “Pastinya sangat senang dan bangga bisa terjun di daerah sendiri, di kampung sendiri yang juga disaksikan masyarakat Kalimantan Timur, juga nenek saya,” kata Dessy.
Kowad 27 tahun itu juga mengatakan, saat melakukan aksi terjun payung tersebut kondisi cuaca di Samarinda berbeda dengan daerah lainnya. Angin bertiup cukup kencang dan langit diselimuti awan yang tebal. “Tetapi syukur semua berjalan dengan lancar dan kami semua bisa mendarat dengan sempurna,” tuturnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini bergabung menjadi prajurit TNI pada 2011. Ia kemudian mengikuti seleksi Kopassus dan akhirnya lulus. “Semua ini menjadi kebanggaan tersendiri bisa bergabung dengan Kopassus,” imbuhnya.
Selama bergabung di Kopassus, Dessy telah mengikuti sejumlah ajang terjun payung militer tingkat internasional, di antaranya di China, Korea, Jerman, Rusia dan Hungaria. Sebanyak 1.285 kali dirinya telah melakukan aksi terjun payung baik di tanah air maupun di luar negeri. “Ya awalnya pasti takut dan untuk mengalahkan rasa takut itu, saya harus melawan rasa takut itu,” ujar Dessy
Sebenarnya Dessy ini tak berpikir untuk menjadi prajurit TNI, karena sejak awal dirinya bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tetapi, karena sang kakek merupakan tentara kemerdekaan Indonesia juga membuat Dessy bisa lolos menjadi prajurit TNI, yang memang awalnya dirinya didaftarkan oleh Koramil tempatnya tinggal. “Tetapi setelah masuk banyak pengalaman yang saya dapat dan bertemu dengan orang banyak, serta berbagi pengalaman. Mudahan nantinya juga ada perempuan seperti saya di Kaltim, karena kalau saya lihat masih minim,” tutupnya. (*)
Penulis: */Nancy
Editor: Aspian Nur