Selain rumah jalan provinsi yang menghubungkan Sangasanga-Muara Jawa juga putus sepanjang 50 meter akibat longsor tersebut. Hingga petang kemarin, setidaknya ada enam rumah yang hilang akibat longsor dan 11 rumah lainnya rawan karena sudah retak.
Hasyim pun membenarkan jika PT ABN memang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian. Bahkan kampung di lokasi kejadian dan sekitarnya masuk Izin Usaha Produksi (IUP) PT ABN. Hanya saja ia membantah jika jarak lokasi tambang hanya 100 meter. “Kami di dalam, kalau dari lokasi kejadian itu hampir 500 meter,” tegasnya.
Ia pun mengaku jika longsor di lokasi tersebut akibat kondisi tanah yang tidak stabil karena mengandung pasir sehingga mudah terbawa air, terlebih saat ini sudah memasuki musim penghujan. Ditambah juga setiap hari ada getaran dari kendaraan yang melintas dan akhirnya longsor ini terjadi.
Namun, lanjut Hasyim, PT ABN akan bertanggung jawab penuh. Saat ini warga yang terkena dampak longsor pun disewakan rumah. “Ke depannya bagaimana, apakah ganti rugi atau dibangunkan rumah itu akan dibahas. Namun sekarang kami fokus ke hal darurat dulu,” tegasnya.
PT ABN pun juga menunggu instruksi Dinas Energi Sumber Daya Mineral dan Dinas Pekerjaan Umum Kaltim untuk melaksanakan perbaikan. “Kami masih menunggu arahan DESDM (Distamben) untuk melaksanakan perbaikan seperti penimbunan dan lainnya,” terangnya. (ami)