Akibat musibah alam ini, kata dia warga harus mengungsi atau membangun rumah di tempat lain. Ada pula yang membangun di desa lain seperti di Desa Bilatalang. “Jadi sekarang populasi warga Pedohon berkurang akibat insiden itu,” katanya.
Menyelematkan material rumah, warga membongkar sendiri rumahnya untuk dijadikan material bangunan rumah baru meski tidak sebesar rumah awal.
“Selain itu, kami dari desa sudah berkoordinasi dengan perusahaan disekitar Kecamatan Tabang untuk membangun semacam rumah sementara seperti barak ukurang 3X4 meter. Saat ini sudah 20 kamar terbangun dan masih terus dikerjakan,” bebernya.
Barak dibangun di belakang kantor Camat di Desa Bilatang. Alasan dibangun di desa tetangga karena kondisi disekitar lokasi sangat memprihatinkan.
Akibat abrasi, jalan utama di RT 1 dan 2 juga terancam rusak akibat tanah tergerus arus air sungai.
Sampai saat ini masih ada sekitar 10 rumah yang rawan dan terancam terdampak longsor. “Makanya kami menunggu program pemerintah untuk relokasi, namun itu terkendala anggaran,” jelasnya.
Dia meminta pemerintah kabupaten mengambil langkah atasi persoalan itu, seperti melakukan relokasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) rencananya akan meninjau lokasi desa yang terdampak longsor.
Kasi Kedaruratan BPBD Kukar, Abidin, mengatakan pihaknya akan memastikan lokasi tersebut harus tidak membahayakan warga. “Rencananya besok, nanti anggota akan kita persiapkan dulu. Kalau memang posisinya aman, warga mengevakuasikan diri sendiri maka kita anggap selesai. Yang penting ‘kan tidak membahayakan manusianya,” ujar Abidin kepada Koran Kaltim, Selasa (21/11) kemarin. (ami/rf218)